Aneka Pernyataan Novel Baswedan di Kasus Teror Air Keras

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang bersama penyidik senior KPK, Novel Baswedan, membuka selubung kain kembali layar penghitung waktu sejak Novel Baswedan, diserang selama itu pula polisi gagal mengungkap pelaku, di gedung KPK Jakarta, Kamis, 19 Desember 2019. Layar penghitung waktu ini, untuk kembali mengingatkan Pimpinan KPK terpilih (2019 -2023) segera menuntaskan kasus penyiraman Air Keras terhadap Penyidik Senior KPK Novel Baswedan yang hingga 1000 hari tidak terungkap pelakunya. TEMPO/Imam Sukamto

    Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang bersama penyidik senior KPK, Novel Baswedan, membuka selubung kain kembali layar penghitung waktu sejak Novel Baswedan, diserang selama itu pula polisi gagal mengungkap pelaku, di gedung KPK Jakarta, Kamis, 19 Desember 2019. Layar penghitung waktu ini, untuk kembali mengingatkan Pimpinan KPK terpilih (2019 -2023) segera menuntaskan kasus penyiraman Air Keras terhadap Penyidik Senior KPK Novel Baswedan yang hingga 1000 hari tidak terungkap pelakunya. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan berulang kali memberikan pernyataan mengenai penyerangan air keras terhadap dirinya. Komentar itu disampaikannya karena polisi tak kunjung membongkar kasus yang sudah terjadi 11 April 2017 ini.

    Ia pernah mendesak polisi mengungkap kasus ini. Pernah juga ia menagih janji Presiden Joko Widodo atau meminta pembentukan tim gabungan pencari fakta. Novel juga pernah menyampaikan indikasi keterlibatan jenderal polisi dalam kasus ini. Hingga Novel bingung karena merasa kehabisan kata-kata. "Saya harus ngomong apa lagi?." Berikut beberapa pernyataan Novel:

    -Indikasi Perwira Polri

    Novel mengatakan telah mengumpulkan semua informasi yang menguatkan dugaan keterlibatan seorang jenderal polisi dalam upaya pengaburan barang bukti kasus penyiraman air keras terhadap dirinya.

    Seorang perwira tinggi yang masih aktif di Markas Besar Kepolisian RI tersebut juga disinyalir punya andil dalam serangkaian teror terhadap penyidik KPK lainnya beberapa tahun terakhir. “Bukti ini ada. Bukan bohongan. Saya siap memberikan semuanya, sekali lagi, semuanya, kepada tim pencari fakta seandainya nanti terbentuk,” kata Novel kepada Tempo, kemarin, 2 Agustus 2017.

    -Maafkan Pelaku

    Novel mengaku ikhlas dan memaafkan pelaku penyiraman dengan air keras pada April 2017. "Dengan tidak mengada-ada dan tidak membuat persepsi, ketika saya diserang, saya memaafkan pelaku dan saya ikhlas," kata Novel dalam acara diskusi peringatan 800 Hari Novel Baswedan di gedung KPK, Jakarta pada Kamis, 20 Juni 2019.

    Meski sudah memaafkan, Novel mengatakan akan terus mendesak agar kasusnya terungkap. Dia khawatir bila kasus ini tak terungkap, maka teror terhadap aparat hukum di KPK ataupun masyarakat lainnya akan terus terjadi.

    -Tagih Janji Presiden

    "Saya tidak akan berhenti mengungkap kasus ini, saya akan mendesak presiden," kata dia saat mulai kembali bekerja di KPK, 27 Juli 2018. Di lain kesempatan, Novel Baswedan  memprediksi kegagalan Polri mengungkap kasus penganiayaan terhadap dirinya. Novel kembali menyebut pentingnya pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

    "Ini sudah seperti yang saya prediksi empat bulan setelah kejadian. Saya bilang memang tidak akan bisa terungkap, makanya perlu bikin TGPF," kata Novel saat dihubungi Tempo, Jumat, 1 November 2019.

    Ia menyayangkan sikap Presiden Jokowi yang justru bersikap sebaliknya, yakni menunggu hasil tim teknis Polri. Namun, kata Novel, kasus sudah lewat dua tahun lebih dan masih belum ada kabar tertangkapnya pelaku.

    -Saya Harus Komentar Apalagi?

    Novel seperti kehabisan kata-kata untuk menagih janji Presiden Joko Widodo dalam penuntasan kasusnya. Ia menghitung sudah lima kali Jokowi berjanji menuntaskan kasus ini. "Janji Pak Jokowi ini sudah kelima, saya mau ngomong apalagi?," kata dia seusai acara bedah buku, di Gedung Tempo, Jakarta, Sabtu, 14 Desember 2019.

    Ia hanya berharap Jokowi akan memenuhi perkataanya, yakni mengungkap kasusnya. Ia enggan berkomentar lebih jauh. "Saya lebih suka melihat realisasinya saja, daripada, saya terus mengomentari janji saya kira enggak baik," kata Novel Baswedan.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.