Pelaku Polisi Aktif, Novel Baswedan: Saya Belum Mau Komentar

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Novel Baswedan berbicara saat menghadiri peluncuran buku Nusantara Berkisah 2: Orang-orang Sakti karya S. Dian Andryanto di Gedung Tempo, Jakarta, 14 Desember 2019. TEMPO/Fardi Bestari

    Novel Baswedan berbicara saat menghadiri peluncuran buku Nusantara Berkisah 2: Orang-orang Sakti karya S. Dian Andryanto di Gedung Tempo, Jakarta, 14 Desember 2019. TEMPO/Fardi Bestari

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyidik senior KPK Novel Baswedan mengatakan belum bisa berkomentar soal polisi yang telah menangkap terduga pelaku penyerangannya. "Saya menunggu lebih lengkap," kata Novel, Jumat, 27 Desember 2019.

    Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap dua tersangka pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan. Keduanya, disebut berinisial RM dan RB, saat ini merupakan anggota Polri aktif.

    "Dari tim teknis telah menemukan informasi yang signifikan dan info tersebut kami dalami tadi malam. Kami tim teknis bekerja sama dengan Kepala Korps Brimob telah mengamankan pelaku yang diduga melakukan penyiraman saudara NB," ujar Kabareskrim Polri Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat, 27 Desember 2019.

    Listyo enggan membeberkan lebih lanjut penangkapan dua orang tersebut. Ia hanya mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan. "Sudah ya," ujarnya menyudahi rilis tersebut. 

    Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan, disiram air keras oleh dua orang tak dikenal pada 11 April 2017. Ia diserang sepulang dari salat subuh berjamaah di Masjid Ihsan di dekat rumahnya. Akibatnya, dua mata Novel terancam buta. Mata kirinya rusak hingga 95 persen, dan harus menjalani operasi berkali-kali di Singapura.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.