Lima Pimpinan Sepakat Cari Juru Bicara Baru untuk KPK

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah di kantornya, Jakarta Selatan pada 15 November 2018. TEMPO/Andita Rahma

    Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah di kantornya, Jakarta Selatan pada 15 November 2018. TEMPO/Andita Rahma

    TEMPO.CO, Jakarta - Lima pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara kolektif memutuskan mencari juru bicara baru untuk lembaga antirasuah. Posisi itu dianggap masih kosong, sehingga dibutuhkan personel untuk menempatinya. “Sudah (didiskusikan),” kata Wakil Ketua KPK Lilik Pintauli Siregar, saat dihubungi, Selasa, 24 Desember 2019.

    Menurut Lilik, rencana ini bukan bermaksud untuk menggantikan Febri Diansyah. Menurut dia, selama ini posisi juru bicara memang masih kosong. “Sebelum pimpinan baru masuk, memang jubir kosong.”

    Sebelumnya, Indonesia Corruption Watch mencurigai motif di balik pencarian jubir KPK baru ini. Peneliti ICW Kurnia Ramadhana menengarai ada upaya untuk menyingkirkan orang-orang tertentu di KPK. "Kami curiga bahwa kebijakan ini adalah langkah balas dendam dari lima Pimpinan KPK terhadap figur tertentu di KPK," kata peneliti ICW Kurnia Ramadhana dalam keterangan tertulis, Selasa, 24 Desember 2019.

    Menurut Kurnia, sebelum memutuskan mencari jubir baru, seharusnya pimpinan berkonsultasi dengan Biro Sumber Daya KPK. Konsultasi perlu untuk menganalisis, apakah mencari juru bicara KPK baru sifatnya mendesak mesti dilakukan. Dan apakah untuk mengukur kinerja Febri Diansyah sebagai juru bicara.

    Lilik mengatakan pencarian jubir baru tak perlu dipermasalahkan. Sebab, antara juru bicara dan Kepala Biro Humas KPK tak boleh dirangkap. Dua posisi itu kini dijabat oleh Febri Diansyah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?