Romo Djono Jelaskan Latar Belakang Tema Natal 2019

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah jemaat Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus alias Gereja Kayutangan, Kota Malang, sedang mengikuti misa pada Kamis, 19 Desember 2019. Jumlah jemaat Gereja Kayutangan sekitar 3.500 jiwa. TEMPO/Abdi Purnomo

    Sejumlah jemaat Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus alias Gereja Kayutangan, Kota Malang, sedang mengikuti misa pada Kamis, 19 Desember 2019. Jumlah jemaat Gereja Kayutangan sekitar 3.500 jiwa. TEMPO/Abdi Purnomo

    TEMPO.CO, Jakarta - Pastor Kepala Paroki Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Kota Malang, Jawa Timur Romo Alberto A. Djono Moi, O.Carm, mengatakan, perayaan Natal 2019 di gereja yang ia pimpin bertema, Hiduplah sebagai Sahabat bagi Semua Orang.

    Tema ini merupakan pesan Natal bersama antara Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang ditandatangani di Bandung, 13 November 2019.

    Menurut Romo Djono, tema itu dilatari pemikiran bahwa Kemerdekaan Indonesia merupakan rahmat Ilahi sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Semua umat Kristen harus mempercayai Tuhan Yang Maha Esa ikut berperan dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

    Keragaman maupun kebinekaan bangsa Indonesia merupakan anugerah dari Tuhan untuk dijaga dan dirayakan dengan penuh syukur dan sukacita. Kesamaan cita-cita luhur para pejuang kemerdekaan terbukti mampu melampaui sekat-sekat perbedaan yang ada.

    “Pesan Natal tahun ini adalah pesan persahabatan yang mengajak kita kembali kepada sejarah bersama bangsa Indonesia, cita-cita bersamanya, dan perjuangan bersama bagi kemanusiaan, bagi Indonesia yang bermartabat,” kata Romo Djono kepada Tempo, Senin, 23 Desember 2019.

    Romo Djono melanjutkan, tema maupun pesan Natal 2019 sebenarnya terinspirasi oleh “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan” alias Deklarasi Abu Dhabi atau Dokumen Abu Dhabi.

    Dokumen itu ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid al-Azhar Ahmed At-Tayyeb dalam Pertemuan Persaudaraan Manusia di Abu Dhabi, Ibu Kota Uni Emirat Arab, Senin, 4 Februari 2019.

    Dokumen Abu Dhabi berisi 12 poin. Intinya, kedua tokoh bersepakat terus berupaya mendorong terbentuknya hubungan yang lebih kuat antara umat manusia; mempromosikan hidup berdampingan antara umat beragama untuk melawan ekstremisme dan dampak negatifnya, bahwa tindak kekerasan dan kebencian yang mengatasnamakan Tuhan maupun agama sama sekali tidak dapat dibenarkan.

    “Substansi Dokumen Abu Dhabi itu sangat kontekstual dan relevan dengan kondisi dunia dan khususnya di negara kita sekarang ini,” kata Romo Djono, yang juga Kepala Para Romo Paroki di Kota Malang.

    Gereja HKY atau Kayutangan berusia 114 tahun. Saat ini Paroki Hati Kudus Yesus mempunyai sekitar 3.500 umat yang tersebar di sembilan wilayah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dijen Imigrasi Ronny Sompie Dicopot Terkait Harun Masiku

    Pencopotan Ronny Sompie dinilai sebagai cuci tangan Yasonna Laoly, yang ikut bertanggung jawab atas kesimpangsiuran informasi kasus Harun.