Isu Masjid Dijaga Polisi, Stafsus Ma'ruf Amin: Biaya dari mana?

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua PBNU Robikin Emhas usia diskusi Setara Institute di AOne Hotel, Jakarta Pusat, 8 Februari 2018. Tempo / Friski Riana

    Ketua PBNU Robikin Emhas usia diskusi Setara Institute di AOne Hotel, Jakarta Pusat, 8 Februari 2018. Tempo / Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Staf Khusus Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Robikin Emhas, menegaskan isu yang selama ini beredar luas di masyarakat bahwa masjid akan dijaga dan diawasi oleh petugas kepolisian adalah hoaks.

    "Terkait isu masjid akan dijaga dan diawasi oleh polisi itu hoaks, Kiai Ma'ruf tidak pernah bilang begitu," kata dia saat menjadi pemateri dalam Seminar Nasional Kebangsaan Nahdlatul Ulama di Meulaboh, Aceh, Ahad, 22 Desember 2019.

    Dia menjelaskan Ma'ruf Amin tidak pernah memberikan pernyataan yang menyatakan setiap masjid akan dijaga atau dikawal oleh polisi. "Menempatkan polisi di satu masjid itu punya biaya. Biayanya dari mana?" ujar Robikin.

    Ia juga menyatakan berapa banyak jumlah masjid di Indonesia. Dan jika ditempatkan polisi untuk melakukan penjagaan maka jumlah biaya yang harus dikeluarkan oleh negara tentu banyak.

    Robikin menegaskan yang dimaksudkan oleh Ma'ruf Amin saat menghadiri kegiatan di Cirebon, Jawa Barat, itu yaitu selama ini banyak masjid di Indonesia diduga telah disalahgunakan untuk mengumbar kebencian sehingga meresahkan umat Islam.

    Untuk itu, katanya, Ma'ruf Amin menyarankan di masjid dilakukan penjagaan oleh pengurus masjid (takmir) sehingga tidak disalahgunakan oleh para pihak yang berusaha mengumbar kebencian di masyarakat.

    "Masjid itu banyak fungsinya, untuk kegiatan ibadah, ekonomi masyarakat, dan kegiatan masyarakat yang positif," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.