Megawati Minta Perempuan Tak Takut Terjun ke Dunia Politik

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ( BPIP) Megawati Soekarnoputri memberikan pidato disaksikan Presiden Jokowi (tengah) bersama Wakil Presiden Ma'ruf Amin (kanan) saat Presidential Lecture Internalisasi dan Pembumian Pancasila di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019.TEMPO/Subekti.

    Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ( BPIP) Megawati Soekarnoputri memberikan pidato disaksikan Presiden Jokowi (tengah) bersama Wakil Presiden Ma'ruf Amin (kanan) saat Presidential Lecture Internalisasi dan Pembumian Pancasila di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019.TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarnoputri berpesan kepada seluruh perempuan Indonesia untuk tidak takut terjun ke dunia politik.

    "Para perempuan jangan takut masuk ke dunia politik," kata Megawati saat menjadi pembicara dalam peringatan Hari Ibu yang diselenggarakan BPIP di Jakarta, Ahad, 22 Desember 2019.

    Mega mengatakan konstitusi yang berlaku di Indonesia tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Dalam konstitusi, kata dia, kedudukan perempuan sama dan sederajat. 

    Ia mencontohkan sejumlah perempuan yang terjun ke dunia politik. Seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani yang beberapa kali menduduki jabatan politik. Kemudian Ketua DPR RI Puan Maharani. Mega menyebut jabatan ketua DPR selama 22 tahun terakhir selalu dipimpin oleh laki-laki.

    Selain itu, kata dia, dirinya juga pernah menduduki jabatan Presiden ke-5 Republik Indonesia dan Wakil Presiden ke-8 Republik Indonesia.

    Mega mengatakan capaian tersebut bukan sebagai ajang pamer, melainkan agar bisa menjadi inspirasi bagi kaum perempuan lainnya. "Semua capaian itu kita lakukan dengan perjuangan," ujar dia.

    Dalam kesempatan yang sama Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui masih banyak hambatan bagi perempuan untuk bisa berkiprah dipanggung nasional dan internasional.

    Salah satu faktor yang menjadi hambatan yakni adanya konstruksi sosial dan kultural yang menempatkan perempuan tidak boleh lebih maju dari laki-laki. "Perempuan dianggap konco wingking,” ucap dia. Padahal, kata Sri, semua peran itu bisa dilakukan jika antarpasangan dapat saling berkomunikasi dan berbagi peran.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.