PBNU: Mengucapkan Selamat Natal Tak Mengganggu Akidah Umat Islam

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria berpakaian seperti Santa Claus memberikan permen kepada seorang gadis di Zocalo Square sebagai bagian dari perayaan Natal di Mexico City, Meksiko 19 Desember 2019. REUTERS/Henry Romero

    Seorang pria berpakaian seperti Santa Claus memberikan permen kepada seorang gadis di Zocalo Square sebagai bagian dari perayaan Natal di Mexico City, Meksiko 19 Desember 2019. REUTERS/Henry Romero

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Tanfidziah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas mengatakan, dalam dimensi ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), mengucapkan selamat natal tidak mengganggu akidah bagi umat Islam.

    Robikin mengatakan, dalam konteks ini, ia setuju dengan pendapat ulama asal Mesir Syekh Yusuf Qaradhawi bahwa boleh tidaknya ucapan selamat natal dari Muslim kepada Nasrani itu dikembalikan kepada niatnya.

    "Kalau berniat hanya untuk menghormati atau berempati kepada teman yang nasrani, maka tidak masalah. Indonesia kita ini kan negara majemuk. Apalagi ucapan natal itu dimaksudkan sebagai ungkapan kegembiraan atas kelahiran Nabi Isa A.S. sebagai rasul," ujar Robikin, Ahad, 22 Desember 2019.

    Dengan panduan dan batasan seperti itu, kata Robikin, momentum natal bisa menjadi ajang untuk mempererat dan mengikat kembali tali kebangsaan Indonesia.

    Dalam konsep kebinekaan yang menjadi pilar kebangsaan, ujar Robikin, kemajemukan dalam masyarakat adalah sumber kekuatan utama bangsa Indonesia.

    "Ini dulu bingkai dasar yang harus kita insyafi. Meskipun berbeda keyakinan, bukankah kita tetap bersaudara dalam kemanusiaan," ujar Robikin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.