Wakapolri dan Kapolda Metro yang Baru Teman Seangkatan Idham Azis

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono dan Kepala Bareskrim Polri Inspektur Jenderal Idham Azis usai upacara pisah-sambut di Polda Metro Jaya, Jumat, 25 Januari 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono dan Kepala Bareskrim Polri Inspektur Jenderal Idham Azis usai upacara pisah-sambut di Polda Metro Jaya, Jumat, 25 Januari 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, JakartaKepala Polri Jenderal Idham Azis telah menunjuk Kepala Polda Metro Jaya  Inspektur Jenderal Gatot Eddy Pramono sebagai Wakil Kepala Polri (Wakapolri). 

    Selain itu, Idham juga menunjuk Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat Inspektur Jenderal Nana Sudjana sebagai Kepala Polda Metro Jaya

    Mereka berdua bersama Idham Azis adalah jebolan Akademi Kepolisian angkatan 1988.

    Sebelumnya, Gatot Eddy Pramono dipilih menjadi Wakapolri menggantikan Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmanto, yang akan pensiun pada akhir bulan ini. Gatot Eddy yang sekarang menjadi Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya akan menambah satu bintang di pundaknya menjadi Komisaris Jenderal, setelah resmi dilantik 

    Penunjukkan Gatot Edy sebagai Tribarata 2, sebutan untuk jabatan Wakapolri dituangkan dalam Telegram Rahasia bernomor ST/330/XII/KEP/2019 yang diteken Kapolri Jenderal Idham Azis. Surat bertanggal Jumat, 20 Desember 2019 memberi kepastian adanya pergantian jabatan Gatot Eddy.

    Nana yang lahir di Cirebon pada 26 Maret 1969 menduduki posisi Kapolda Nusa Tenggara Barat sejak 4 Mei 2019 lalu. Jenderal polisi yang banyak menghabiskan karirnya di bidang intelijen ini pernah menjabat Direktur Intelijen Keamanan Polda Jawa Timur (2014), Wakapolda Jambi (2015) dan Wakapolda Jawa Barat (2016). Setelah itu, dia mengisi pos sebagai Direktur Politik Baintelkam Polri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.