Soal Uighur, Mahfud MD: Kita tidak Bisa Diam

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Polhukam Mahfud MD memberikan bantuan kepada keluarga korban terorisme di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat, 13 Desember 2019. Empat korban tindak pidana terorisme mendapat kompensasi dari pemerintah sebesar Rp 450,33 juta. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Menko Polhukam Mahfud MD memberikan bantuan kepada keluarga korban terorisme di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat, 13 Desember 2019. Empat korban tindak pidana terorisme mendapat kompensasi dari pemerintah sebesar Rp 450,33 juta. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD mengatakan Indonesia tidak bisa mendiamkan dugaan perlakuan diskriminatif pemerintah Cina terhadap komunitas muslim Uighur. Namun di sisi lain Indonesia tidak bisa asal bertindak tanpa mengetahui peristiwa yang sebenarnya.

    "Kami tidak bisa mendiamkan peristiwa itu tapi juga kami harus tahu masalah yang sebenarnya," katanya di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis, 19 Desember 2019.

    Menurut Mahfud, pemerintah lewat Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah melakukan upaya diplomasi kepada pemerintah Cina sejak lama. Pemerintah mengedepankan langkah diplomatis halus ketimbang langsung konfrontatif. "Kami menjadi penengah dan mencari jalan yang baik, bukan konforntatif," ujarnya.

    Selain dari pemerintah, Indonesia melalui organisasi kemasyarakatan sudah menyuarakan protesnya kepada pemerintah Cina. "Kita cari jalan yang baik, lah," tuturnya.

    Menurut Mahfud, kawasan penduduk Islam di Cina tidak hanya terletak di Uighur saja tapi ada di banyak wilayah lain. Ia bercerita telah mengunjungi daerah selain Uighur di Cina dan melihat masyarakat muslim di sana baik-baik saja. "Tapi kalo di Uighur terjadi begitu ada apa? Kami harus mencoba lebih objektif melihat seluruh persoaan itu," ucap dia.

    Dugaan persekusi dan diskriminasi terhadap etnis Muslim Uighur di wilayah Xinjiang telah berlangsung lama. Para ahli dan aktivis PBB mengatakan sedikitnya satu juga warga Uighur dan anggota kelompok minoritas Muslim lainnya telah ditahan di kamp-kamp di Xinjiang sejak 2017, seperti dilaporkan Reuters.

    Selain itu, pemerintah China dikabarkan melarang etnis Uighur dan warga Muslim lainnya di Xinjiang untuk menjalankan ibadah. Larangan itu terutama berlaku bagi pegawai negeri sipil, guru, dan pelajar.

    AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dijen Imigrasi Ronny Sompie Dicopot Terkait Harun Masiku

    Pencopotan Ronny Sompie dinilai sebagai cuci tangan Yasonna Laoly, yang ikut bertanggung jawab atas kesimpangsiuran informasi kasus Harun.