Sinta Nuriyah: Tuhan Melarang Tindakan Koersif pada Agama Lain

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sinta Nuriyah terima penghargaan Honoris Causa di UIN Sunan Kalijaga Yogya Rabu (18/12). Tempo/Pribadi Wicaksono.

    Sinta Nuriyah terima penghargaan Honoris Causa di UIN Sunan Kalijaga Yogya Rabu (18/12). Tempo/Pribadi Wicaksono.

    TEMPO.CO, Jakarta - Istri mendiang Presiden RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur Sinta Nuriyah mengungkapkan orang akan menemukan bahwa Islam merupakan agama yang amat toleran dengan pemahaman secara mendalam melalui Al Quran.

    "Dalam memahami ayat-ayat Al Quran tersebut dapat disimpulkan bahwa Tuhan melarang tindakan koersif terhadap kepercayaan atau agama yang berbeda," ujar Sinta saat menerima penghargaan gelar Doktor Honoris Causa (H.C) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu, 18 Desember 2019.

    Tindakan koersif sendiri merujuk suatu bentuk pengendalian sosial yang mengagungkan cara-cara kekerasan dan anarkis untuk menyelesaikan permasalahan.

    "Pengadilan puncak terhadap keimanan hanya ada di tangan Tuhan. Oleh karena itu kesombongan teologis yang telah menjadi salah satu penyebab pertikaian antar agama, antar budaya, serta menyulut tindakan brutal dengan melakukan perusakan maupun penutupan tempat ibadah keyakinan lain, seharusnya tidak terjadi," ujar Sinta.

    Sinta pun merujuk sejumlah pemahaman dari ayat Al Quran yang dipelajarinya. Pertama ayat suci Al Qur’an surat Al Hujurat ayat 13. Bahwa tujuan Allah menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan, serta menjadikannya bersuku-suku dan bergolongan-golongan, menuntut reaktualisasi terhadap nilai-nilai ketakwaan dalam seluruh tatanan kehidupan manusia, sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia di muka bumi ini.

    "Hidup secara harmonis, toleran, saling tolong menolong diantara sesama, merupakan tujuan dari ayat tersebut," ujarnya.

    Sinta juga meyakini jika kerja sama dan tolong menolong di antara sesama manusia itu sudah tentu tidak hanya terbatas pada mereka yang seagama saja, atau hanya untuk suatu etnik maupun bangsa tertentu saja, tetapi untuk seluruh umat manusia apa pun afiliasi sektarian mereka. Sebab semuanya akan dihisab amal perbuatannya pada hari pengadilan nanti. Sinta pun merujuk firman Allah dalam Al Qur’an Q.S Al Baqarah.

    "Ayat (Baqarah) ini juga memberikan pemahaman, bahwa agama itu harus bisa hidup berdampingan tanpa harus terlibat aktif di dalamnya, sesuai dengan keimanan sejati mereka.

    Sinta pun lantas membeberkan jika Allah juga mengingatkan manusia sesungguhnya adalah satu umat melalui Q.S Al Anbiya’.

    "Semua manusia berhak diperlakukan sama dan bertanggung jawab kepada Tuhan," kutip Sinta.

    Sinta kembali menegaskan bahwa dalam Al Quran menegaskan tidak ada paksaan dalam agama melalui contoh surat Al Baqarah.

    "Nampaknya Tuhan ingin menyampaikan bahwa seseorang tidak bisa dicabut hak-hak sipilnya karena keyakinan agamanya, tidak peduli bagaimana menyebalkannya agama itu bagi umat agama dominan," ujarnya.

    Sinta mengungkapkan pluralisme merupakan satu kata ringkasan untuk menjelaskan suatu tatanan dunia baru dalam masyarakat yang heterogen secara kultural dan religius seharusnya senantiasa mewarnai kehidupan keberagaman bangsa Indonesia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.