Gibran vs Inkumben, Survei: Pemilih PDIP Solo Terbelah

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gibran Rakabuming Raka (kanan) didampingi pendukungnya mendaftarkan diri sebagai bakal calon Wali Kota Solo di Panti Marhaen, Kantor Dewan Perwakilan Daerah PDIP Jawa Tengah, Semarang, Kamis, 12 Desember 2019. Putra sulung Presiden Joko Widodo alias Jokowi berencana mengikuti untuk Pilkada Solo 2020. TEMPO/Jamal Abdun Nashr

    Gibran Rakabuming Raka (kanan) didampingi pendukungnya mendaftarkan diri sebagai bakal calon Wali Kota Solo di Panti Marhaen, Kantor Dewan Perwakilan Daerah PDIP Jawa Tengah, Semarang, Kamis, 12 Desember 2019. Putra sulung Presiden Joko Widodo alias Jokowi berencana mengikuti untuk Pilkada Solo 2020. TEMPO/Jamal Abdun Nashr

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga survei Media Survei Nasional (Median) mencatat bahwa pemilih PDI Perjuangan Solo terbelah di antara putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, dan Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo menjelang Pilakda 2020.

    Baiik Gibran maupun Purnomo mencalonkan diri sebagai Wali Kota Solo.

    "Dari 100 persen pemilih PDIP terbelahan yang luar biasa," kata Direktur Eksekutif Median Rico Marbun dalam rilis survei "Pilkada Kota Solo: Mengukur Elektabilitas di Tengah Isu Politik Dinasti" di Restoran Bumbu Desa Cikini, Jakarta, hari ini, Senin, 16 Desember 2019.

    Median menggelar survei pada 3-9 Desember 2019 dengan melibatkan 800 responden di Kota Solo, Jawa Tengah.

    Dari survei itu, 43,7 persen pemilih PDIP memilih Achmad Purnomo. Sedangkan yang memilih Gibran 36,7 persen. Sebanyak 13,1 persen responden menjawab lainnya dan 6,5 persen tidak menjawab.

    Menurut Rico, pembelahan ini mewakili pemilih struktural dan kultural PDIP. Gibran, seperti halnya Jokowi, disebutnya tergolong sebagai tokoh kultural partai banteng. Adapun Purnomo termasuk tokoh struktural partai.

    Rico menilai PDIP sebaiknya menunda keputusan ihwal siapa yang akan dicalonkan di Pilkada Solo 2020. Sebab jika terburu-buru, dia memprediksi hal itu bisa berimbas pada larinya salah satu kelompok pemilih PDIP di Pileg 2024.

    "Cara terbaik melihat dulu selama dua tiga bulan ke depan sampai terjadi pengerucutan suara. Jangan nanti partai rugi karena pemilih struktural atau kulturalnya kabur," kata dia.

    Median mencatat pembelahan serupa juga terjadi di kalangan pemilih partai politik lain.

    Pemilih beberapa partai tidak memilih Purnomo, di antaranya Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa PKB), Partai Perindo, dan Partai Solidaritas Indonesia.

    Ada pula partai yang pemilihnya tidak memilih Gibran, yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN).

    "Bisa jadi bahan evaluasi masing-masing partai politik," kata Rico.

    Secara rinci, berikut pembelahan yang terjadi di partai-partai tersebut.

    Golkar
    72,5 persen Achmad Purnomo
    5,8 persen Gibran Rakabuming
    2,9 persen lainnya
    18,8 persen tidak menjawab

    PKS
    55,2 persen Achmad Purnomo
    0 persen Gibran Rakabuming
    13,8 persen lainnya
    31 persen tidak menjawab

    Gerindra
    43,2 persen Achmad Purnomo
    31,8 persen Gibran Rakabuming
    6,8 persen lainnya
    18,2 persen tidak menjawab

    NasDem
    18,2 persen Achmad Purnomo
    9,1 persen Gibran Rakabuming
    36,3 persen lainnya
    36,4 persen tidak menjawab

    PAN
    6,7 persen Achmad Purnomo
    0 persen Gibran Rakabuming
    26,6 persen lainnya
    66,7 persen tidak menjawab

    Demokrat
    0 persen Achmad Purnomo
    50 persen Gibran Rakabuming
    25 persen lainnya
    25 persen tidak menjawab

    PKB
    0 persen Achmad Purnomo
    42,9 persen Gibran Rakabuming
    57,1 persen lainnya
    0 persen tidak menjawab


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.