Hilmar Farid Fokus Pendidikan Karakter Berbasis Kesenian

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid saat menjadi pembicara dalam diskusi Ngobrol @tempo di Museum Nasional, Jakarta, 22 Agustus 2019. Diskusi tersebut bertema Menyingkap Tirai Sejarah Dharmasraya

    Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid saat menjadi pembicara dalam diskusi Ngobrol @tempo di Museum Nasional, Jakarta, 22 Agustus 2019. Diskusi tersebut bertema Menyingkap Tirai Sejarah Dharmasraya "dari Dharmasraya ada sejarah Indonesia yang patut diluruskan, yakni Ekspedisi Pamalayu". TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta-Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan akan fokus pada pendidikan karakter berbasis kebudayaan. Hal ini disampaikan Hilmar setelah kembali dilantik sebagai Dirjen Kebudayaan oleh Mendikbud Nadiem Makarim, Senin, 16 Desember 2019.

    "Fokus di pendidikan karakter berbasis kebudayaan. Salah satu core-nya kesenian," kata Hilmar kepada Tempo di ruang Grha Utama, Gedung A Kemdikbud Jakarta Pusat.

    Hilmar menuturkan, ke depan, seni tradisi tak hanya akan menjadi pilihan ekstrakulikuler, melainkan terintegrasi dalam pendidikan sekolah. Dia mencontohkan dalam seni tradisi pencak silat terdapat nilai-nilai disiplin, dan kemampuan mengendalikan diri yang dapat membangun karakter anak. Tak hanya pencak silat, seni tradisi itu kelak akan disesuaikan dengan daerah masing-masing sekolah.

    Hilmar berujar upaya itu juga dilakukan agar terjadi proses regenerasi. "Seperti seni tradisi, dari segi demografinya makin menua. Kita ingin bawa itu kembali ke anak-anak dan tentunya tantangannya pengembangan konten," kata Hilmar.

    Dalam prosesi pelantikan, Mendikbud Nadiem Makarim menyampaikan harapannya kepada Hilmar. Nadiem berharap Ditjen Kebudayaan dapat memperbanyak program dan kegiatan yang melibatkan para pemuda dan generasi milenial.

    Nadiem mengatakan upaya itu dilakukan agar dapat tumbuh kecintaan terhadap budaya bangsa Indonesia. "Dan bisa menandingi dahsyatnya arus budaya luar, supaya budaya kita tidak asing di mata bangsa sendiri," ujar Nadiem.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.