Jadi Wantimpres, Wiranto Didesak Segera Mundur dari Hanura

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi mengucapkan selamat kepada Wiranto seusai dilantik sebagai Ketua dan Anggota Wantimpres 2019-2024 di Istana Negara, Jakarta, Jumat 13 Desember 2019. Anggota berikutnya antara lain: Arifin Panigoro dan Putri Kuswisnu Wardani, Mantan Gubernur Jatim Sukarwo, dan tokoh agama Habib Luthfi bin Yahya TEMPO/Subekti.

    Presiden Jokowi mengucapkan selamat kepada Wiranto seusai dilantik sebagai Ketua dan Anggota Wantimpres 2019-2024 di Istana Negara, Jakarta, Jumat 13 Desember 2019. Anggota berikutnya antara lain: Arifin Panigoro dan Putri Kuswisnu Wardani, Mantan Gubernur Jatim Sukarwo, dan tokoh agama Habib Luthfi bin Yahya TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir mengatakan bahwa mantan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto semestinya segera mundur dari partainya setelah didapuk menjadi anggota dewan pertimbangan presiden oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

    Menurut Inas, Wiranto hingga kini masih tercatat sebagai ketua Dewan Pembina Hanura berdasarkan SK Nomor M.HH-01.AH.11.01 tahun 2018.

    "DPP Hanura belum menerima surat pengunduran diri Wiranto dari jabatannya di partai, yakni Ketua Dewan Pembina," kata Inas melalui pesan singkat, Sabtu, 14 Desember 2019.

    Inas pun menganggap Wiranto harus segera mundur dari Hanura. Sebab, merujuk Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Dewan Pertimbangan Presiden, anggota wantimpres dilarang merangkap jabatan sebagai pengurus partai.

    Pengunduran diri Wiranto, kata Inas, bisa dilakukan secara tertulis. Meskipun UU Nomor 16 Tahun 2006 itu memberikan tenggat waktu selama tiga bulan untuk mundur sejak diangkat menjadi wantimpres, dia berujar Wiranto sebaiknya tak menunda-nunda.

    Menurut Inas, sikap menunda-nunda itu tak mencerminkan sikap kenegarawanan. "Oleh karena itu, mari kita sama-sama menunggu dan mencermati, apakah Wiranto akan bersikap layaknya seorang negarawan atau malah sebaliknya yakni hanya sekedar petualang politik," ujar Inas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.