Bos Grup Mayapada Dato Tahir Jadi Dewan Pertimbangan Presiden?

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Founder Mayapada Group, Dato Sri Tahir saat menjadi narasumber dalam acara The Founders bertajuk

    Founder Mayapada Group, Dato Sri Tahir saat menjadi narasumber dalam acara The Founders bertajuk "How To Be A Good Entrepreneur" di Gedung TEMPO, Jakarta, Rabu, 27 Maret 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi akan melantik anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres hari ini, Jumat, 13 Desember 2019.

    "Sesuai undangan pelantikan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, akan dilaksanakan hari ini, Jumat 13 Desember 2019, pukul 14.30 WIB di Istana Negara," kata juru bicara presiden, Fadjroel Rachman, dalam pesan tertulisnya.

    Sejumlah nama mulai beredar di publik. Mulai dari mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, politikus PDIP Sidarto Danusubroto, ulama asal Pekalongan Muhammad Luthfi Bin Yahya, politikus Partai Golkar Agung Laksono, hingga bos Mayapada Group Dato Sri Tahir.

    Saat dikonfirmasi, Tahir tak memberikan jawaban secara gamblang. Namun, ia memberikan petunjuk akan hadir di Istana Kepresidenan Jakarta hari ini. "Menurut kamu saya qualified, enggak? Kalau iya, nanti kita ketemu. Tunggu 2 jam 30 menit lagi saja ya. Insya Allah," katanya kepada Tempo.

    Sebelumnya, Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang juga ditawari menjabat Wantimpres. Namun, setelah bertemu Menteri Sekretaris Negara Pratikno pagi ini, Oso menyampaikan bahwa ia menolak tawaran tersebut.

    Alasannya, ia terganjal persyaratan bahwa anggota Wantimpres tidak boleh rangkap jabatan pimpinan partai politik. Ia juga mengaku masih ingin membesarkan Partai Hanura.

    "Karena persyaratan itu saya memutuskan untuk sementara terus bersama teman-teman seperjuangan agar tetap, walaupun bagaimana kabinet kan 100 persen mendukung Bapak Presiden di dalam pemerintahan ini," ujar Oso.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.