KPK Kembali Periksa Bos Lippo James Riady dalam Kasus Meikarta

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • CEO Lippo Group James Riady (depan) jadi saksi di sidang suap proyek Meikarta di Pengadilan Tipikor, Bandung, Rabu, 6 Februari 2019. James mengaku kunjungannya ke rumah Bupati Bekasi Neneng saat itu tidak ada hubungan dengan proyek Meikarta. TEMPO/Prima Mulia

    CEO Lippo Group James Riady (depan) jadi saksi di sidang suap proyek Meikarta di Pengadilan Tipikor, Bandung, Rabu, 6 Februari 2019. James mengaku kunjungannya ke rumah Bupati Bekasi Neneng saat itu tidak ada hubungan dengan proyek Meikarta. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - KPK atau Komisi Pemberantasan Korupsi menjadwalkan pemeriksaan CEO Lippo Group James Riady dalam kasus dugaan korupsi dalam proyek properti Meikarta pada hari ini, Kamis, 12 Desember 2019.

    Dia akan dimintai keterangan sebagai saksi atas tersangka Bartholomeus Toto, bekas Presiden Direktur Lippo Cikarang.

    "KPK mengagendakan pemeriksaan James Tjahaja Riady sebagai saksi untuk BTO," kata juru bicara KPK Febri Diansyah pada Rabu, 11 Desember 2019, di kantornya.

    Febri pun menyatakan KPK meminta James Riady memenuhi panggilan ini.

    Dia juga menegaskan bahwa, "Perlu diingat, kehadiran sebagai saksi merupakan kewajiban hukum."

    KPK menyangka Toto memberi suap Rp 10,5 miliar kepada Bupati Neneng Hasanah Yasin. Suap itu diberikan untuk mempermudah izin pembangunan mega proyek Meikarta di Cikarang milik Lippo Group tersebut.

    Toto menyangkal memberikan suap itu. Ia lalu menuding anak buahnya telah memfitnahnya.

    Rumah James Riady pernah digeledah oleh penyidik KPK pada 18 Oktober 2018. KPK tak menyita barang bukti di sana.

    James Riady juga pernah diperiksa dalam penyidikan dan persidangan dengan terdakwa Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin.

    Dalam dakwaan disebutkan James Riady pernah bertemu Neneng untuk membahas perkembangan izin mendirikan bangunan proyek Meikarta. James mengakui pernah bertemu Neneng tapi menyangkal membahas proyek.

    Neneng telah divonis 6 tahun penjara karena terbukti menerima suap sebesar Rp 10,6 miliar dan Sin$ 90 ribu terkait proyek perizinan Meikarta.

    Penetapan tersangka terhadap Toto merupakan pengembangan perkara Neneng.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.