Menristek Bambang Lempar Wacana Guru Besar dari Jalur Peneliti

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Bandung -- Menteri Riset dan Teknologi Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro melempar wacana gelar guru besar untuk peneliti.

    Menurut Bambang, wacana itu dulu sempat mencuat. Dia  pun berpendapat jalur guru besar untuk peneliti perlu dihidupkan.

    "Daripada kita berantem. Senpat ribut (gelar) profesor itu hanya boleh perguruan tinggi, jalur peneliti tidak boleh ada profesornya," ucapnya dalam Sidang Paripurna Majelis Senat Akademik 11 Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) di Bandung pada Senin lalu, 9 Desember 2019.

    Dia menerangkan berdasarkan pengalamannya di universitas hingga Kementerian Riset dan Teknologi ada akademis yang berkontribusi ke pengajaran tapi bakatnya adalah peneliti.

    Persoalannya kesusahan batas kumulatif pengajaran sehingga akademisi dari jalur peneliti susah menjadi guru besar.

    Bambang berpendapat dosen juga sudah untuk menjadi peneliti sebab basisnya di perguruan tinggi, bukan institusi penelitian seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) atau Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

    "Ini hanya masalah titel, yang esensial adalah agar peneliti bisa difasilitasi secara maksimal. Dia juga butuh penghargaan, bukan sekedar gaji atau bonus tapi status sebagai profesor."

    Bambang mengungkapkan bahwa bsia saja senat akademik tempat yang tepat untuk mengakomodasi lahirnya guru besar dari universitas yang basisnya penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat.

    "Jangan ada guru besar yang hanya bisa mengajar saja, menurut saya ini akan meningkatkan jumlah peneliti," kata Bambang, yang pernah menjadi Kepala Bappenas.

    Jumlah peneliti perlu ditambah sebab selama ini diasumsikan seluruh mahasiswa S2 dan S3 adalah peneliti. Padahal beberapa jurusan, seperti magister manajemen dan magister akuntansi, kecil sekali penelitiannya. Begitu pula notariat di Fakultas Hukum yang lebih ke profesi.

    Sementara itu Ketua Majelis Senat Akademik 11 PTNBH 2019-2020 Nachrowi Djalal Nachrowi mengatakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seharusnya membuka penggunaan pengindeks selain Scopus dan Web of Science bagi artikel-artikel ilmiah yang diajukan sebagai syarat khusus kepada guru besar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.