Kapolda Sumut Harap Kematian Hakim PN Medan Segera Terungkap

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto memperlihatkan barang bukti senjata api dan pisau milik tersangka pembunuhan sekeluarga di Medan, Sumatera Utara, Senin, 22 Oktober 2018. Seorang pelaku tewas ditembak mati karena melawan petugas. ANTARA/Septianda Perdana

    Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto memperlihatkan barang bukti senjata api dan pisau milik tersangka pembunuhan sekeluarga di Medan, Sumatera Utara, Senin, 22 Oktober 2018. Seorang pelaku tewas ditembak mati karena melawan petugas. ANTARA/Septianda Perdana

    TEMPO.CO, Jakarta - Polisi masih belum bisa mengungkap kematian hakim Pengadilan Negeri atau PN Medan Jamaluddin. Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara Inspektur Jenderal Agus Andrianto mengatakan sudah 25 saksi yang dimintai keterangan dalam kasus ini.

    Agus mengatakan penyidik masih mendalami keterangan dan alibi para saksi. Tim penyidik gabungan juga masih bekerja mengumpulkan informasi dari analisa laboratorium forensik, dan bukti-bukti lainnya.

    Agus mengaku sudah bisa menduga kasus ini seperti apa, namun untuk menentukan tersangkanya tidak bisa sembarangan.

    Menurut Agus, kematian korban yang diduga dibunuh ini tidak ada hubungannya dengan perkara yang tengah disidangkan korban. Tapi, lulusan Akademi Polisi 1989 ini irit bicara soal motif pelaku.

    "Mohon restu kepada rekan-rekan media, mudah-mudahan bisa terungkap sebelum saya pindah," katanya usai menghadiri silaturahmi bersama masyarakat di Mapolrestabes Medan, Senin, 9 Desember 2019.

    Masa jabatan Agus sebagai Kapolda Sumatera Utara bakal segera berakhir. Ia telah ditunjuk sebagai Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan atau Kabaharkam Polri. Adapun penggantinya adalah Inspektur Jenderal Martuani Sormin.

    Agus mengatakan tidak ada niat menghambat pengungkapan kasus dan menutup-nutupi hasil penyidikan. Menurut Agus, masih ada dua pekerjaan rumah yang belum terungkap yaitu kasus jambret yang korbannya meninggal dan kasus pembunuhan Jamaluddin.

    "Kami maunya perkara ini cepat terungkap dan disampaikan ke publik. Saya mohon maaf jika masih banyak PR yang belum bisa dikerjakan. Itu adalah kesalahan saya, tapi anggota sudah bekerja keras mengungkapnya," ujar dia.

    Menurut Agus, berdasarkan hasil laboratorium forensik, korban Jamaluddin sudah meninggal sekitar 12 sampai 20 jam dari saat ditemukan. Indikasinya, kata Agus, korban sudah meninggal di kediamannya. "Tapi tetap harus menunggu hasil analisa labfor dan forensik supaya tidak salah menetapkan tersangka karena bisa berdampak dengan yang bersangkutan," ujar dia.

    "Pastinya, motif pembunuhan bukan karena menangani perkara. Saya sudah bisa menduga kasus ini seperti apa, tapi untuk menentukan tersangkanya tidak bisa sembarangan. Pengungkapannya sangat tergantung dari alat bukti dan keterangan saksi," kata Agus.

    Kematian Jamaluddin masih berselimut misteri. Warga Perumahan Royal Monaco Blok B Nomor 22 Kelurahan Gedungjohor, Kecamatan Medanjohor, Kota Medan, ditemukan tak bernyawa di dalam mobil Toyota Land Cruiser Prado BK 77 HD pada Jumat, 29 November 2019.

    Posisi mobil berada di dalam jurang kebun sawit milik masyarakat di Dusun 2 Namobintang Desa Sukadame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang. Saat ditemukan, korban tergeletak kaku di bangku tengah mobil.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.