Rocky Gerung: Saya Manusia Bebas. Bisa Mengkritik atau Memuji

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Akademisi, Rocky Gerung meninggalkan ruang sidang usai menjadi saksi fakta pada sidang lanjutan mendengarkan keterangan saksi terkait kasus penyebaran berita bohong atau hoaks yang dilakukan oleh terdakwa Ratna Sarumpaet di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa, 23 April 2019.  TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Akademisi, Rocky Gerung meninggalkan ruang sidang usai menjadi saksi fakta pada sidang lanjutan mendengarkan keterangan saksi terkait kasus penyebaran berita bohong atau hoaks yang dilakukan oleh terdakwa Ratna Sarumpaet di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa, 23 April 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Akademikus, Rocky Gerung, mengatakan pernyataan dia yang menyebut presiden tak paham Pancasila merupakan bagian kebebasan berpendapat. Ia merasa aneh jika ada seseorang yang mempersoalkan pendapat ini.

    "Justru karena saya manusia bebas, saya bisa memilih. Mengkritik atau memuji. Saya memilih mengkritik. Kenapa disalahin? Ajaib logika itu," kata Rocky kepada Tempo, Rabu, 4 Desember 2019.

    Rocky mengatakan keliru jika ada orang yang menganggap kebebasan berpendapat adalah harus diartikan sebagai memuji pemerintah. Mestinya, prinsip bebas berpendapat, kata dia, diartikan bahwa seseorang bisa memilih pendapat yang mendukung maupun yang tidak mendukung.

    Sementara itu, Rocky mengatakan mendukung rencana Politikus PDIP, Junimart Girsang, yang berencana melaporkan dirinya. "Malah bagus. Untuk membuka diskursus, supaya kita bicara pancasila dalam tataran yang bermutu," kata Rocky. 

    Junimart berencana melaporkan ucapan Rocky dalam acara Indonesia Lawyers Club pada Selasa, 3 Desember 2019. Rocky menyebut Presiden Joko Widodo atau Jokowi tak memahami pancasila. Bagi Junimart, Rocky telah menghina presiden.

    Rocky menilai keliru jika Junimart Girsang menganggap ia telah menghina simbol negara. "Simbol negara itu bukan Presiden. Presiden itu enggak mungkin menetap, karena bisa diganti. Yang menetap itu lambang negara. Seperi bahasa, bahasa adalah simbol negara," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?