Ketum Muhammadiyah dan Presiden PKS Bahas Isu Kebangsaan

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto bersama sutradara dan produser film Jejak Langkah 2 Ulama dengan Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng KH Solahuddin Wahid, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir, dan Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah Sukriyanto AR di Gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu 24 Juli 2019. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

    Foto bersama sutradara dan produser film Jejak Langkah 2 Ulama dengan Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng KH Solahuddin Wahid, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir, dan Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah Sukriyanto AR di Gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu 24 Juli 2019. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir bersama Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman membahas berbagai permasalahan tentang kebangsaan dalam pertemuan yang dibalut makan malam di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Rabu, 4 Desember 2019.

    "Muhammadiyah dan PKS mendiskusikan bagaimana Indonesia ke depan di mana kita banyak tantangan dari dalam dan luar. Tapi kita punya modal politik, modal budaya, modal rohani, modal sosial di mana kami optimis bahwa Indonesia ke depan tentu punya peluang menjadi negara besar," kata Haedar.

    Haedar menuturkan, dalam mewujudkan Indonesia menjadi negara besar harus ada kontinuitas dengan jiwa, pikiran, dan cita-cita kebangsaan. Dalam konteks itu lah, kedua tokoh bersama beberapa petinggi PKS juga bicara tentang para pejuang dan pendiri bangsa meletakkan pondasi agar Indonesia menjadi negara yang bersatu, berdaulat, maju, adil, dan makmur.

    Pembahasan mengenai kebangsaan, kata Haedar, Muhammadiyah bersama PKS dan komponen reformasi lainnya pernah satu napas untuk kehidupan Indonesia yang demokratis. Sehingga, ia dan Sohibul ingin melakukan konsolidasi demokrasi agar tidak melupakan semangat reformasi, yang membuat Indonesia menjadi sebuah negara yang memiliki check and balances, dan proses aspirasi kekuatan civil society yang kuat. "Tetapi juga pada saat yang sama kita ingin pemerintahan yang good governance dan sebagainya," ucap Haedar.

    Pembicaraan terakhir, Haedar menuturkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dan PKS sebagai partai yang basisnya juga Islam ingin terus berusaha bersama dengan kekuatan lain mengintegrasikan keislamaan dan keindonesiaan. Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah dan PKS sudah satu visi bahwa Indonesia sebagai negara Pancasila, dan hasil kesepakatan bersama. Sehingga tidak boleh keluar dari kesepakatan itu. Di saat yang sama, Indonesia harus jadi darul sya'adah, yaitu memajukan negara menjadi negara maju.

    Dengan dinamika politik keumatan bisa bermacam-macam dan aspirasi umat Islam yang berwarna, Haedar yakin semua koridornya keislaman dan keindonesiaan sudah menyatu. "Karena itu maka perlu dipupuk ini saling pengertian seluruh komponen bangsa bahwa Islam adalah kekuatan integrasi nasional, dan tidak ada ancaman apapun dari umat Islam," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.