Munas Golkar: Masam Bamsoet, Semringah Airlangga

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto bersama Ketua MPR 2019-2024 Bambang Soesatyo usai pelantikan Ketua MPR di Gedung DPR/MPR Jakarta, 3 Oktober 2019. TEMPO/Ridian Eka Saputra

    Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto bersama Ketua MPR 2019-2024 Bambang Soesatyo usai pelantikan Ketua MPR di Gedung DPR/MPR Jakarta, 3 Oktober 2019. TEMPO/Ridian Eka Saputra

    TEMPO.CO, Jakarta -Raut wajah Bambang Soesatyo alias Bamsoet dan Airlangga Hartarto tampak sangat kontras dalam acara pembukaan Munas Golkar di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta pada Selasa malam, 3 Desember 2019.

    Memasuki lobby hotel, beberapa menit sebelum acara dimulai, muka Bamsoet tampak masam.

    Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat yang biasanya ramah kepada media itu, ogah meladeni wawancara dan langsung masuk ke lobby hotel tempat acara pembukaan dilangsungkan.

    Kontras dengan Bamsoet, Airlangga Hartarto masuk ke lokasi acara bersamaan dengan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Airlangga yang mengenakan kemeja berwarna kuning, tampak begitu sumringah berjalan beriringan dengan Jokowi yang mengenakan kemeja coklat lengan panjang.

    Dalam pidato sambutannya, dua kali Airlangga memuji Bamsoet atas keputusannya mundur dari pencalonan. "Yang kami banggakan Ketua MPR RI Mas Bambang Soesatyo. Terimakasih Mas Bamsoet, sudah membuka musyawarah ini menjadi adem, tenang," ujar Airlangga menyapa Bamsoet yang kemudian disambut riuh tepuk tangan para kader Golkar.

    Di akhir pidatonya, Airlangga kembali memuji Bamsoet. "Sore tadi kami bertemu dan beliau (Bamsoet) menarik diri dari pencalonan. Beliau menyatakan setia kepada komitmen dan mengutamakan kesatuan. Saya mengapresiasi beliau, ini contoh kedewasaan kita dalam berdemokrasi," ujar Airlangga.

    "Mantap Bamsoet!" ujar ratusan kader Golkar sambil berdiri dan bertepuk tangan mengelu-elukan nama Bamsoet.

    Ditemui usai acara pembukaan, Bamsoet sempat menghindar dari wartawan. Namun, setelah berhasil dicegat, Bamsoet mengungkap dua alasannya mundur, yakni; atas dorongan para senior dan demi menjaga stabilitas politik seperti yang dikehendaki Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

    Ketika ditanya apakah ada intervensi istana terkait hal itu, Bamsoet membantah. "Enggak ada, enggak ada," ujar dia dengan nada pelan.

    Saat ditanya apakah Luhut Binsar Panjaitan yang menjadi jembatan antara Jokowi dan dirinya, Bamsoet tidak menjawab lugas, kemudian berkelakar. " Masak Pak luhut jadi jembatan, he-he-he," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.