Jokowi dan Airlangga Hartarto Sumringah di Pembukaan Munas Golkar

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bakal Calon Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto saat menyerahkan berkas persyaratan dan formulir pendaftaran di kantor DPP Golkar, Jakarta, Senin, 2 Desember 2019.  TEMPO/M Taufan Rengganis

    Bakal Calon Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto saat menyerahkan berkas persyaratan dan formulir pendaftaran di kantor DPP Golkar, Jakarta, Senin, 2 Desember 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta-Presiden Joko Widodo hadir untuk membuka acara Munas Golkar di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Selasa malam, 3 Desember 2019. Jokowi tiba di lokasi munas partai berlambang pohon beringin itu pada pukul 19.20.

    Mengenakan kemeja batik cokelat lengan panjang, Jokowi tampak mesra dengan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto. Senyum sumringah terlihat mengembang dari kedua tokoh tersebut.

    Selain Jokowi, sejumlah ketua umum partai juga hadir di acara Munas Golkar. Mereka adalah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PKS Sohibul Iman, Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang, dan Ketua Umum PKPI Diaz Hendropriyono.

    Hadir pula menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju, seperti Menkominfo Johnny G. Plate, Mendagri Tito Karnavian, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Menaker Ida Fauziyah.

    Dalam Munas Golkar kali ini, pemilihan ketua umum akan menjadi agenda utama. Sejauh ini, ada lima calon ketua umum yang lolos tahap penjaringan. Mereka ialah Ridwan Hisjam, Ali Yahya, Agun Gunandjar Sudarsa, Bambang Soesatyo, dan Airlangga Hartarto.

    Namun Bambang dan Agun Gunandjar sudah menyatakan mengundurkan diri. Ridwan Hisjam dan Ali Yahya juhga disebut-sebut akan menyusul mundur. Jika tidak ada calon  penantang, Airlangga Hartarto akan terpilih secara aklamasi di Munas Golkar ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.