KPK Putar CCTV Restoran Tempat Suap Kuota Impor Bawang Diatur

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pihak swasta, Mirawati Basri, menjalani pemeriksaan, di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Jumat, 1 November 2019. Mirawati Basri, diperiksa sebagai tersangka dalam tindak pidana korupsi kasus dugaan suap terkait dengan pengurusan izin Impor Bawang Putih tahun 2019.TEMPO/Imam Sukamto

    Pihak swasta, Mirawati Basri, menjalani pemeriksaan, di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Jumat, 1 November 2019. Mirawati Basri, diperiksa sebagai tersangka dalam tindak pidana korupsi kasus dugaan suap terkait dengan pengurusan izin Impor Bawang Putih tahun 2019.TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi memutar rekaman CCTV Restoran Imperial Steam Pot Senayan City, Jakarta Pusat saat sidang kasus dugaan suap impor bawang putih.

    Di restoran itu, mantan Anggota DPR Fraksi PDIP I Nyoman Dhamantra melalui anak buahnya Mirawati Basri diduga mengatur jatah kuota impor bawang putih di Kementerian Perdagangan.

    "Ibu Mirawati dan Pak Nyoman itu memang tamu reguler kami," kata Supervisor restoran, Nurfitria Farhanah saat bersaksi dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin, 2 Desember 2019.

    Nur bersaksi untuk tiga terdakwa, yakni Direktur PT Cahaya Sakti Agro, Chandry Suandra alias Afung dan dua pihak swasta bernama Doddy Wahyudi dan Zulfikar. Ketiganya didakwa memberikan suap Rp 2 miliar supaya Nyoman membantu mendapatkan izin kuota impor untuk 20 ribu ton bawang putih. 

    Dalam surat dakwaan, KPK menyebutkan bahwa Nyoman, Mirawati dan seorang swasta bernama Indiana alias Nino bertemu di Imperial Steam Pot pada 1 Agustus 2019. Mereka diduga membicarakan pengurusan kuota impor bawang putih.

    Di tempat yang sama, menurut KPK, Mirawati bertemu Dody, Zulfikar, Nino dan dua orang lainnya, Ahmad Syafiq serta Elviyanto untuk menyepakati jumlah komitmen fee dalam pengurusan impor ini sebesar Rp 3,5 miliar. Elviyanto meminta Dody menyerahkan Rp 2 miliar sebagai uang muka untuk mengunci kuota impor tersebut.

    Nurfitria mengaku mengenal Nyoman dan Mirawati sebagai tamu yang sering rapat di ruang VIP restoran. "Di depan kita sering ngobrol, tugasnya apa sih kok sering meeting, terus katanya seorang dewan, ya anggota DPR gitu sih," katanya.

    Jaksa memutar rekaman CCTV resepsionis restoran yang diambil pada 1 Agustus 2019 dari pukul 18.20 hingga 19.50. Rekaman itu menunjukan sejumlah orang satu persatu datang bergantian. Mirawati tiba paling awal, sedangkan Nyoman yang memakai jas datang paling akhir.

    Nurfitria mengaku tak tahu isi pembicaraan para tetamunya. Dia mengatakan hanya bertugas mengantar makanan. Dia mengatakan baru mengetahui bahwa telah terjadi kasus ketika KPK mendatangi restorannya pada 8 Agustus 2019 untuk meminta rekaman CCTV.

    Sehari sebelumnya, tim KPK membekuk Nyoman, Mirawati dan tiga penyuap dalam OTT di tempat berbeda. "Tapi saya tidak tahu karena saya hanya sebagai pelayan, hanya memberi makanan, enggak ngerti masalah yang terjadi di ruangan VIP," ujar Nur.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.