Panitia Reuni 212 Sebut Fadli Zon Hadir, Prabowo Absen

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif usai acara Dzikir dan Munajat Akbar Mujahid 212 di Masjid Agung Sunda Kelapa pada Ahad, 13 Oktober 2019. Tempo/Adam Prireza

    Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif usai acara Dzikir dan Munajat Akbar Mujahid 212 di Masjid Agung Sunda Kelapa pada Ahad, 13 Oktober 2019. Tempo/Adam Prireza

    TEMPO.CO, Jakarta - Panitia Reuni 212 mengatakan tak menyebar undangan kepada tokoh-tokoh politik dalam acara mereka. Alasannya, untuk menghindari spekulasi bahwa acara tersebut politis. 

    "Kami tidak mengundang, tapi Pak Hidayat Nur Wahid, Pak Fadli Zon sudah konfirmasi hadir," ujar Sekretaris Panitia Reuni 212, Slamet Ma'arif, Jakarta Pusat, Jumat, 29 November 2019.

    Hidayat merupakan Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera. Sedangkan Fadli adalah Wakil Ketua Umum Partai Gerindra. 

    Sementara itu, Prabowo Subianto, yang dulu merupakan calon presiden dukungan kelompok 212, dipastikan tak akan hadir. "Saya pastikan beliau enggak akan hadir. "Kenapa? Karena di tanggal itu beliau ada di Turki," ujar Slamet.

    Undangan khusus, kata Slamet, hanya diperuntukkan kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan karena dianggap sebagai tuan rumah. Dia pun mengatakan bahwa Anies bakal datang.

    Reuni 212 yang ketiga kalinya ini akan digelar di Monumen Nasional, Jakarta Pusat pada 2 Desember 2019. Acara akan dimulai dengan salat tahajud berjamaah pada pukul 02.30 dan selesai pada pukul 08.30 WIB.

    Agenda utama Reuni 212 ini adalah Maulid Nabi Muhammad SAW. Selain itu, mereka Massa Juga akan mendesak polisi memidanakan Diah Mutiara Sukmawati Soekarnoputri karena dianggap telah menistakan agama. Mereka juga menuntut pemulangan Rizieq Sihab dari Arab Saudi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.