Survei: Masyarakat Cenderung Tak Dukung Reuni 212

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana sholat Tahajud di Monas dalam rangka reuni 212. Sabtu, 2 Desember 2017. TEMPO/Maria Fransisca.

    Suasana sholat Tahajud di Monas dalam rangka reuni 212. Sabtu, 2 Desember 2017. TEMPO/Maria Fransisca.

    TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat Indonesia cenderung terbelah saat menyikapi acara Reuni 212 yang akan digelar pada 2 Desember 2019. Dalam Survei Parameter Politik Indonesia, masyarakat cenderung tak setuju jika ormas Front Pembela Islam menggelar aksi tersebut.

    "Ada 33,6 persen masyarakat yang tidak mendukung dan 32,5 persen mendukung aksi massa tersebut. Terbelah, tapi cenderung tidak mendukung," ujar Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno di kantornya, bilangan Pancoran, Jakarta Selatan pada Jumat, 29 November 2019.

    Adi menyebut, yang mendukung gerakan aksi massa Islam mengalir dari masyarakat kota, usia muda, pendidikan tinggi, pemilik medsos, beragama Islam, dan pendukung Prabowo-Sandi. "Jadi, artinya ini sisa-sisa Pilpres masih ada," ujar dia.

    Dalam Survei Parameter Politik Indonesia menunjukkan, secara umum masyarakat Indonesia memiliki persepsi bahwa kehadiran ormas Islam seperti FPI, alumni 212, GNPF MUI tidak mengancam iklim demokrasi Indonesia.

    Survei ini dilakukan pada 5-12 Oktober 2019 dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling yang melibatkan sampel sebanyak 1.000 responden.

    Pengumpulan data dilakukan dengan metode face to face interview menggunakan kuisioner yang dilakukan oleh surveyor terlatih. Adapun margin of error survei ini sebesar ± 3,1 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Harley Davidson dan Brompton dalam Daftar 5 Noda Garuda Indonesia

    Garuda Indonesia tercoreng berbagai noda, dari masalah tata kelola hingga pelanggaran hukum. Erick Thohir diharapkan akan membenahi kekacauan ini.