UI Tuan Rumah Seminar Internasional Sejarah Publik

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seminar dan workshop internasional sejarah publik di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Selasa, 26 November 2019. Tempo/Ade Ridwan

    Seminar dan workshop internasional sejarah publik di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Selasa, 26 November 2019. Tempo/Ade Ridwan

    TEMPO.CO, Depok - Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya (PPKB) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia menjadi tuan rumah seminar dan workshop internasional sejarah publik.

    Sejarawan publik yang juga periset PPKB FIB UI, Kresno Brahmantyo, mengatakan, kegiatan ini merupakan promosi dan keterlibatan pertama sejarah publik di Indonesia sebagai bagian dari internasionalisasi sejarah publik.

    Agar lebih menggema, pihaknya bekerja sama dengan Internasional Federation for Public History (IFPH). “Sebuah kebanggan bagi Universitas Indonesia. Sambutan para sejarawan publik dari dalam negeri maupun mancanegara amat besar,” kata Kresno kepada Tempo di FIB UI, Depok, Selasa, 26 November 2019.

    Di antaranya, ujar Kresno, Profesor Thomas Cauvin dari Universitas Colorado yang juga Presiden Federasi Internasional Sejarah Publik dan Profesor David Dean dari Carleton Centre or Public History Canada. “Sebagai keynot speakers Dirjen Kebudayan Kemendikbud, Hilmar Farid,” kata Kresno.

    Menurut dia, pada dekade belakangan ini kehidupan sosial masyarakat dikembalikan kepada publik atau menjadi ranah publik. “Demikian juga aktivitas kesejerahan,” kata Kresno.

    Kresno mengatakan, dengan diselenggarakannya kegiatan ini diharapkan, aktifitas sejarah bisa dikembalikan atau melibatkan publik yang telah berkembang di negara maju, seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Australia, sejak 1970-an.

    “Mereka disebut sebagai praktisi sejarah public, yaitu mereka yang memperoleh pendidikan sejarah di universitas namun melakukan kerja kesejarahan di luar universitas,” kata Kresno.

     Akar dari sejarah publik, Kresno menambahkan, adalah pelestarian objek sejarah, situs atau gedung bersejarah (termasuk rumah tokoh pahlawan), taman yang berhubungan erat dengan sejarah, bekas lokasi pertempuran, film dan program televisi, arsip dan dokumen sejarah, serta sejarah lisan dan kurator di museum yang berkaitan erat dengan sejarah.

    Sejarahwan dapat menjadi agen perubahan dan memiliki peran yang signifikan dalam pengetahuan sejarah di masyarakat. “Sejarah publik adalah sesuatu yang aktif, reaktif dan sangat relevan bagi masyarakat luas yang memungkinkan mereka terhubung dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan,karena peninggalan bersejarah adalah cermin perkembangan satu bangsa dari waktu ke waktu,” kata dia.

    Kegiatan internasional bertajuk Working with the Past in the Present, diselenggarakan selama tiga hari sejak Selasa hingga Jumat, 26-29 November 2019, di Auditorium Gedung 1 FIB Universitas Indonesia.

    Mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga. Selain  dari Universitas Colorado, Carleton Centre or Public History Canada, juga University of New South Wales Australia, Itali, Universitas Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Gadjah Mada, UIN Ar-Raniry, Universitas Sriwijaya.

    Juga Museum Bank Indonesia, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa,Universitas Hasanuddin, ITB, Universitas Sebelas Maret, Universitas Indraprasta, Universitas Padjadjaran, Universitas Andalas, Universitas Airlangga, dan Universitas Sunan Kalijaga. “Ada sekitar 40 pemakalah,” ujar Kresno.

    ADE RIDWAN YANDWIPUTRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.