Ditjen Pemasyarakatan Buka Alasan Grasi untuk Annas Maamun

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Annas Maamun menjalani sidang vonis di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung, Jawa Barat, 24 Juni 2015. Annas terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam kasus suap alih fungsi lahan kebun kelapa sawit di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. TEMPO/Prima Mulia

    Annas Maamun menjalani sidang vonis di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung, Jawa Barat, 24 Juni 2015. Annas terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam kasus suap alih fungsi lahan kebun kelapa sawit di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM mengatakan alasan kemanusiaan menjadi dasar pemerintah memberikan grasi kepada Gubernur Riau Annas Maamun. Ditjen Pemasyarakatan menyatakan usia Annas yang sudah 78 tahun dan menderita sakit berkepanjangan jadi alasan.

    "Karena usia 78 tahun sudah uzur, sakit-sakitan, sudah mulai renta, kesehatan sudah mulai menurun," kata Kepala Bagian Humas Ditjen Pemasyarakatan Ade Kusmanto dalam keterangan tertulis, Selasa, 26 November 2019.

    Ade mengatakan Annas menderita penyakit paru-paru, dispepsia syndrome, gastritis dan sesak nafas. Ade mengatakan atas pertimbangan itu, Menteri Hukum dan HAM berwenang meneliti dan melaksanakan pengajuan grasi tersebut.

    "Selanjutnya presiden dapat memberikan grasi setelah memperhatikan pertimbangan hukum tertulis dari Mahkamah Agung dan Menteri Hukum dan HAM," kata dia.

    Presiden Joko Widodo mengeluarkan Keputusan Presiden mengenai grasi tersebut pada 25 Oktober 2019. Hukuman Annas dipangkas dari 7 tahun menjadi 6 tahun.

    Indonesia Corruption Watch menyatakan kecewa kepada Jokowi. Meski demikian, ICW mengaku tak kaget. Sebab, komitmen pemberantasan korupsi Jokowi memang tidak jelas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.