Jumlah Perempuan Terlibat Terorisme Meningkat, Lihat Angkanya

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur AMAN Indonesia Ruby Kholifah (kiri) menyampaikan materi dalam Indonesia Peacebuilder Forum 2019 pada Selasa, 26 November 2019, di kampus Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur. Forum tersebut dihelat pada 26-28 November 2019. FOTO: Tempo/Eko Widianto

    Direktur AMAN Indonesia Ruby Kholifah (kiri) menyampaikan materi dalam Indonesia Peacebuilder Forum 2019 pada Selasa, 26 November 2019, di kampus Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur. Forum tersebut dihelat pada 26-28 November 2019. FOTO: Tempo/Eko Widianto

    TEMPO.CO, Malang - Keterlibatkan perempuan dalam terorisme di Indonesia meningkat sejak 2015. Peran kaum hawa dalam ekstrimisme menunjukkan tren baru.

    Berdasarkan data Asian Muslim Action Network (AMAN), sampai 2019 sudah 10 wanita tercatat menjadi pelaku terorisme.

    “Semula, laki-laki jihad di medan perang, lalu perempuan mendukung secara ekonomi,” kata Direktur AMAN Indonesia Ruby Kholifah dalam Indonesia Peacebuilder Forum 2019 pada hari ini, Selasa, 26 November 2019, di kampus Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur.

    Masih menurut data AMAN, bom bunuh diri di Sidoarjo dan Surabaya, Jawa Timur, pada 2018 melibatkan tiga perempuan dan 11 anak-anak.

    Tahun sebelumnya, 2017, sebanyak 1.500 anak-anak menjalani latihan militer di camp pelatihan militer Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

    Dalam perhelatan yang akan digelar sampai Kamis, 28 November 2019, tersebut Ruby juga menjelaskan bahwa pada 2015 tercatat 3.500 anak-anak muda di negara barat direkrut ISIS melalui media sosial. Sebanyak seperenam di antaranya adalah perempuan.

    Yang terbaru, istri pelaku bom Medan diduga merencanakan bom bunuh diri di Bali.

    Ruby menuturkan, keterlibatan perempuan dalam bom bunuh diri menandakan perubahan tren terorisme. Semula perempuan berjihad untuk menjaga keluarga sekaligus dan menjaga komitmen suami jihad.

    Menurut temuan AMAN, banyak faktor yang menyebabkan perempuan terlibat dalam ekstremisme, mulai kemiskinan, media sosial, keyakinan akan kebenaran tunggal, perasaan kurang diakui keluarga, sampai kurangnya komunikasi dengan orang tua.

    Indonesia Peacebuilders Forum 2019 adalah kolaborasi para praktisi, akademisi, pembuat kebijakan, dan sektor swasta untuk mencegah ekstrimisme.

    Forum tahunan tersebut mengupas dan saling berbagi pengetahuan pencegahan dan penanganan kekerasan ekstremisme dengan pendekatan gender.

    Menghadirkan lebih dari 15 pakar di bidang berdamaian dan ekstremisme se-Asia Pasifik dan 300 peserta.  Para pakar itu antara lain Azyumardi Azra (Indonesia), Amalina Abdul Nasir (Singapore), dan Melisa Johnson (Australia).

    Indonesia Peacebuilders Forum 2019 juga akan menyusun strategi kebijakan dan intervensi di masa depan pada pencegahan dan penanganan kekerasan ekstremisme.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.