Menjemput Investasi Kakap Asal Jepang dan Korea Selatan

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bersama delegasi melakukan pertemuan dengan SK Group dalam rangkaian kunjungan kerja ke Korea Selatan, 20 November 2019. SK Group merupakan salah satu perusahaan besar Korea Selatan yang saat ini bergerak di kelompok bisnis energi dan kimia, teknologi informasi, komunikasi, dan semi konduktor, serta jasa dan logistik.

    Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bersama delegasi melakukan pertemuan dengan SK Group dalam rangkaian kunjungan kerja ke Korea Selatan, 20 November 2019. SK Group merupakan salah satu perusahaan besar Korea Selatan yang saat ini bergerak di kelompok bisnis energi dan kimia, teknologi informasi, komunikasi, dan semi konduktor, serta jasa dan logistik.

    INFO NASIONAL — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan investasi di sektor industri manufaktur, terutama yang menjadi prioritas dalam Making Indonesia 4.0. Adapun dua negara yang dianggap potensial untuk ditarik modalnya ke Tanah Air, yakni Jepang dan Korea Selatan (Korsel).

    Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan sejumlah pelaku industri skala besar di Jepang akan membawa uangnya ke Indonesia senilai total Rp 40 triliun hingga 2023. Komitmen investasi ini menjadi kabar baik yang diharapkan dapat terealisasi dengan cepat sehingga mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat struktur manufaktur di dalam negeri.

    “Kami sampaikan bahwa secara garis besar dari hasil pertemuan dengan pelaku industri di Jepang sangat produktif. Sudah ada beberapa komitmen untuk investasi baru dan pengembangan (ekspansi),” kata Agus.

    Pada 18 November 2019, Agus melakukan one on one meeting secara maraton dengan delapan korporasi asal Negeri Sakura di Tokyo, Jepang. Para investor tersebut, di antaranya adalah direksi Nippon Steel, Nippon Shokubai, AGC Inc, dan Toyota Group.

    Agus menyampaikan, Nippon Shokubai siap melakukan investasi baru sebesar US$ 200 juta untuk pabrik acrylic acid berkapasitas 100 ribu metrik ton. Saat ini, kapasitas produksi pabrik Nippon Shokubai sebesar 140 ribu metrik ton sehingga pada November 2021 menjadi 240 ribu metrik ton.

    Di samping itu, PT Asahimas Chemical, anak perusahaan AGC Inc Jepang, juga akan  menggelontorkan dananya senilai Rp 1,3 triliun untuk ekspansi pabrik fase ke-7 di Cilegon, Banten. Investasi tersebut untuk perluasan pabrik Polivinil Klorida (PVC) fase ke-7 dengan kapasitas 200 ribu metrik ton per tahun. Pabrik ini ditargetkan rampung pada semester I tahun 2021.

    Menperin menyampaikan, pihak Asahi sempat mempertanyakan pasokan bahan baku untuk mendukung proses industrinya di Indonesia. Kemenperin selaku pembina sektor manufaktur akan menjaga kelancaran pasokan bahan baku untuk industri, termasuk kebutuhan garam.

    Agus tak lupa mengumpulkan berbagai masukan dari pelaku industri Jepang yang berminat berinvestasi di Indonesia. Hasilnya, beberapa hal yang dibutuhkan oleh mereka di antaranya pasokan bahan baku, upah pekerja, dan regulasi. Untuk merespons harga gas industri, Menperin menegaskan, akan terus berkoordinasi di tingkat lintas kementerian seperti dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

    Berbeda dengan Jepang, peningkatan investasi yang bersumber dari Korea Selatan juga terus didorong oleh Kemenperin mengingat Korsel memiliki sejumlah korporasi yang telah berperan dalam rantai pasok global. 

    “Salah satu perusahaan dari Korsel, yakni LG Chemical, telah menyampaikan minatnya untuk berinvestasi membangun pabrik baterai terintegrasi di Indonesia, yang meliputi pabrik baterai sel, baterai modul, hingga fasilitas daur ulang baterai,” kata Agus, beberapa waktu lalu di Jakarta. 

    Itu sebabnya, Menperin bersama jajarannya melakukan one on one meeting dengan direksi LG Chemical. Dari hasil pertemuan tersebut, LG Chemical berkomitmen menanamkan investasinya senilai US$ 2,3 miliar. “LG ingin melakukan investasi di ASEAN. Indonesia merupakan salah satu yang menjadi fokus,” ucap Agus.

    Menurut Menperin, LG Chemical sudah melakukan kajian-kajian awal agar investasinya di Indonesia sukses dan sesuai rencana. Korporasi raksasa asal Negeri Ginseng itu juga menyampaikan keinginannya untuk melakukan studi terkait penggunaan baterai listrik pada sepeda motor dalam mendukung penggunaan kendaraan ramah lingkungan di Indonesia.

    Dalam rangka menjemput bola asal Korsel, pada 19 November 2019, Menperin bersama rombongan melakukan pertemuan dengan direksi Lotte Chemical di Seoul, Korea Selatan. Hasilnya, Indonesia mendapat tambahan investasi dari Lotte yang akan meningkatkan kapasitas produksi naphta cracker menjadi 3,5 juta ton per tahun dari rencana awalnya 2 juta ton per tahun.

    Sebelumnya, korporasi raksasa asal Negeri Ginseng tersebut telah menanamkan modalnya untuk membangun kompleks pabrik petrokimia di Cilegon, Banten, sebesar US$ 3,5 miliar atau sekitar Rp 53 triliun. Apabila tambahan investasi terealisasi, diproyeksikan menjadi US$ 4,3 miliar atau sekitar Rp 60,6 triliun.

    Pabrik yang akan mengolah naphta cracker itu berada di lahan seluas 100 hektare, dengan bahan baku yang bisa dihasilkan menjadi beberapa produk turunan. Yakni, ethylene, propylene, polypropylene, dan lainnya. Setelah resmi beroperasi, hasil produksi dari pabrik ini bakal digunakan untuk memenuhi permintaan domestik maupun global.

    “Jadi, langkah tersebut sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo untuk terus menggenjot investasi dan hilirisasi sektor industri. Upaya strategis ini diyakini meningkatkan perekonomian nasional secara fundamental, dengan penghematan devisa dari substitusi impor dan akan pula dapat memperbaiki neraca perdagangan kita saat ini karena berorientasi ekspor,” kata Agus. 

    Tarik Investasi Otomotif 

    Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita melakukan pertemuan dengan sejumlah perusahaan otomotif ternama Jepang. Tujuannya, demi pengembangan industri otomotif di dalam negeri agar lebih berdaya saing secara global.

    “Kami mendapat laporan tentang rencana ekspansi dari Toyota Group sebesar Rp 28,3 triliun. Ini termasuk pengembangan Toyota, Daihatsu, dan Hino,” ujar Agus. Investasi ini akan direalisasikan dalam periode lima tahun, yakni 2019-2023 untuk mengembangkan bisnis di Indonesia. 

    Di samping itu, Honda menyampaikan akan merealisasikan investasi sebesar Rp 5,1 triliun pada periode 2019-2023 di Indonesia. “Investasi tersebut untuk model baru dan pendalaman industri, lokalisasi dan sebagainya. Karena memang salah satu nilai positif dari Honda adalah menempatkan pusat penelitian dan pengembangannya di Indonesia,” kata Menperin.

    Agus juga mengharapkan Krakatau Nippon Steel Sumikin (Nippon Steel Group) agar terus meningkatkan porsi baja canai gulung dingin lokal, agar tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sektor otomotif meningkat sekaligus bisa menekan impor.

    “Misi kami bertemu dengan Nippon Steel agar Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS) bisa meningkatkan porsi baja canai gulung dingin atau CRC (cold rolled coil),” katanya. Hal ini sejalan dengan kebijakan Kemenperin untuk mencari substitusi barang sejenis yang diimpor dari Jepang sebagai bahan baku sektor otomotif.

    Pada kegiatan one on one meeting di Tokyo, Agus juga bertemu dengan sejumlah industri otomotif asal Negeri Sakura, antara lain dengan direksi Mitsubishi Motors Corporation (MMC), Toyota Group, Daihatsu Motor Corporation, Hino Motor, Suzuki Motor Corporation, Isuzu Japan, dan Honda Motor. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.