Berbagi Pupuk ala Desa Mengkiang di Lahan Padi Organik

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Junaedi, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan)  di Desa Mengkiang, Kabupaten Sanggau memimpin 12 kelompok tani praktik produksi padi organik.  Kegiatan merupakan binaan PT Finnantara Intiga, anak perusahaan Sinar Mas Asia Pulp and Paper (APP) melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) .

    Junaedi, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Desa Mengkiang, Kabupaten Sanggau memimpin 12 kelompok tani praktik produksi padi organik. Kegiatan merupakan binaan PT Finnantara Intiga, anak perusahaan Sinar Mas Asia Pulp and Paper (APP) melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) .

    INFO NASIONAL — Senyum semringah kini terpancar di wajah Junaedi, 50 tahun. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Mengkiang, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, ini merasa bersyukur karena 12 kelompok tani yang dipimpinnya, kini tak lagi kesulitan mendapatkan pupuk. 

    Melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA), para petani yang menggarap lahan produksi padi organik di Desa Mengkiang mampu mendapatkan pupuk. Sebelumnya dari 90 persen petani, hanya satu sampai dua orang yang bisa membeli pupuk NPK. 

    Dengan program ini, petani yang mempunyai uang untuk membeli pupuk, dapat meminjamkan pupuknya untuk petani yang kekurangan dana. Atau petani yang memiliki pupuk satu karung seberat 50 kilogram dapat menyisihkan separuhnya untuk petani lain. “Sebelumnya petani hanya mampu membeli 5 kilogram pupuk untuk sekali masa tanam sehingga hasilnya tidak optimal,” ujar Junaedi yang ditemui Rabu, 20 November lalu.

    Budi daya padi organik yang dilakukan Junaedi dan para petani Desa Mengkiang merupakan kegiatan yang dibina PT Finnantara Intiga, unit usaha Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA). Saat ini hamparan sawah padi organik memiliki luas 56 hektare yang tersebar di dusun Sengkuang, Sei Langer, dan Mengkiang.

    Program DMPA mendukung masyarakat setempat untuk mengelola lahan dengan metode agroforestri, yakni bercocok tanam tumpang sari hortikultura (sayur dan buah), tanaman pangan, peternakan, dan perikanan.

    Petani Desa Mengkiang memang sepenuhnya belum menjalankan praktik pertanian organik. Mereka belum mampu membuat pupuk organik cair dan kompos karena keterbatasan bahan baku. Yang bisa dilakukan adalah membatasi pemakaian pupuk kimia dan pestisida. “Kalau ada hama insektisida, kami berikan pupuk cair,” kata Junaedi.

    Dengan mengandalkan sawah tadah hujan, sawah Junaedi seluas 0,8 hektare diperkirakan akan menghasilkan gabah kering sebanyak 2,8-3 ton. Sebagian besar panen dijual ke Kota Sanggau. Setiap rumah tangga di Desa Mengkiang pun tak pernah kekurangan stok beras di rumahnya sepanjang tahun. 

    Padi organik di Desa Mengkiang menghasilkan beras merah. Untuk setiap kilogramnya, petani menjual seharga Rp 15 ribu. Sebagian sawah petani lainnya menghasilkan beras hitam, dengan harga jual Rp 20 ribu-25 ribu per kilogram.

    Pertanian menetap di wilayah ini telah menggantikan ladang berpindah-pindah yang biasanya membakar lahan. Namun, cara ini lambat laun mulai ditinggalkan karena biayanya yang cukup besar. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.