Nadiem Makarim Putar Video Pidato Hari Guru Nasional 2019

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mendikbud Nadiem Makarim berfoto selfie bersama peserta peringatan Sumpah Pemuda 2019 di Jakarta. (kemendikbud.go.id)

    Mendikbud Nadiem Makarim berfoto selfie bersama peserta peringatan Sumpah Pemuda 2019 di Jakarta. (kemendikbud.go.id)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Upacara Peringatan Hari Guru Nasional 2019 hari ini, Senin 25 November 2019.

    Upacara diikuti lebih dari 100 peserta dari perwakilan guru, siswa, mahasiswa, dan tamu undangan. Acara Hari Guru Nasional sekaligus HUT PGRI tersebut memasang tema "Peran Strategis Guru Dalam Mewujudkan SDM Indonesia Unggul."

    Mendikbud Nadiem Makarim tampil menjadi pembina upacara. Dia mengatakan tak akan membacakan naskah pidato yang salinannya sudah dibawa oleh para hadirin.

    "Namun kami sudah menyiapkan sebuah video pidato Hari Guru Nasional. Marilah kita menyimak video Hari Guru Nasional," ucap Nadiem Makarim.

    Di jajaran tamu undangan terdapat antara lain Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, Mendikbud 1993-1998 Wardiman Djoyonegoro, Mendikbud 2004-2009 Bambang Sudibyo, dan Wamendikbud 2011-2014 Musliar Kasim.

    Upacara yang digelar sekitar pukul 07.30 hingga 08.30 WIB itu dimeriahkan penampilan gerak dan lagu dari 100 siswa PAUD serta persembahan lagu-lagu dari orkestra Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Musik Perguruan Cikini (Percik).

    Adapun video Hari Guru Nasional 2019 memperlihatkan Menteri Nadiem Makarim membacakan teks pidato yang sudah dirilis oleh Kemdikbud melalui situs resminya sejak 3 hari lalu.

    "Guru Indonesia yang Tercinta, tugas Anda adalah yang termulia sekaligus yang tersulit. Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan."

    Para guru ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu mereka habis mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas.

    Para guru juga tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan.

    "Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan. Anda frustasi karena Anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal," tutur Menteri Nadiem Makarim.

    Menurut Nadiem, dia tak akan membuat janji kosong kepada para guru, tetapi akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia. Perubahan tidak dapat dimulai dari atas, tetapi berawal dan berakhir dari guru.

    Para guru juga diminta tidak menunggu aba-aba dan perintah, tetapi segera mengambil langkah pertama dan perubahan kecil di kelas. Nadiem mencontohkan para guru bisa mengadakan kelas berdiskusi sehingga murid tak hanya mendengarkan.

    Guru bisa juga memberikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas. Dalam kelas itu cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas, temukan bakat diri murid yang kurang percaya diri, dan tawarkan bantuan kepada guru yang mengalami kesulitan.

    Terakhir, menteri berusia 35 tahun tersebut menyampaikan apresiasinya baik kepada seluruh jajaran pemerintahan, Kemdikbud maupun dinas pendidikan seluruh Indonesia atas program selama lima tahun terakhir.

    "Yang sudah berdampak positif kepada guru se-Nusantara. Terimakasih jasa Bapak - Ibu," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.