Pengamat Ragukan Kapasitas Staf Khusus Milenial Presiden Jokowi

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi (keempat kiri) bersama staf khusus yang baru dari kalangan milenial ketika diperkenalkan di halaman tengah Istana Merdeka Jakarta, Kamis, 21 November 2019. Ketujuh staf khusus baru yang diperkenalkan Presiden Jokowi merupakan anak-anak muda berusia antara 23-36 tahun atau generasi milenial. ANTARA/Wahyu Putro A

    Presiden Jokowi (keempat kiri) bersama staf khusus yang baru dari kalangan milenial ketika diperkenalkan di halaman tengah Istana Merdeka Jakarta, Kamis, 21 November 2019. Ketujuh staf khusus baru yang diperkenalkan Presiden Jokowi merupakan anak-anak muda berusia antara 23-36 tahun atau generasi milenial. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta-Pengamat politik sekaligus Direktur Indonesia Political Opinion Dedi Kurnia Syah Putra meragukan kapasitas para staf khusus milenial yang baru saja ditunjuk Presiden Joko Widodo. Menurut Dedi, sebagian dari mereka berasal dari kalangan praktis yang ditengarai tidak memiliki gagasan-gagasan besar yang bisa mempengaruhi kebijakan presiden.

    "Saya tidak bermaksud dikotomi, tapi kita perlu kapasitas yang tidak berkaitan dengan usia tua dan muda untuk bisa mempengaruhi kebijakan. Sekarang, tujuh orang ini banyak dari kalangan praktis, dari sisi pemikirannya menurut saya kurang," ujar Dedi dalam sebuah acara diskusi di bilangan Menteng, Jakarta Pusat pada Sabtu, 23 November 2019.

    Dedi mencurigai stafsus yang ditunjuk ini hanya bagian dari upaya Jokowi mengakomodir para pendukungnya di pemilihan presiden lalu. Musababnya, ada stafsus yang berasal dari kader PKPI, PSI dan bekas relawan Jokowi-Ma'ruf.  "Nilai krusialnya kecil, lebih mengemuka soal akomodasi," ujar Dedi.

    Staf Khusus Milineal Presiden, Aminuddin Ma'ruf menjawab keraguan tersebut. Menurut dia, teman-temannya memiliki kapasitas yang memadai dan latar belakang pendidikan yang cukup di bidangnya. "Mereka sangat expert di bidang masing-masing. Pendidikan mereka juga luar biasa. Coba saja undang mereka," ujar Amin di lokasi yang sama.

    Lagipula, ujar Amin, penunjukan mereka bukan tiba-tiba, tapi ada proses komunikasi intensif dan diskusi sejak lama dengan presiden. "Dari proses komunikasi dan diskusi itu, Presiden tentu memiliki kesimpulan sendiri akan kapasitas kami," ujar aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ini.

    Dia juga meyakini, presiden membuka diri menerima masukan dari anak-anak muda ini. Sebagai contoh, ujar Amin, dia pernah memberi masukan kepada presiden untuk memberikan beasiswa afirmasi LPDP kepada para aktivis dan santri.

    "Saya bilang, jangan hanya membatasi memberikan beasiswa berdasarkan passing grade atau kapasitas berbahasa Inggris yang mumpuni. Alhamdulillah, sekarang sudah ada kebijakan itu," ujar bekas relawan Santri Bersama Jokowi ini.

    Ke depan, Amin menjanjikan kehadiran mereka di kabinet Jokowi-Ma'ruf akan memberi warna baru dan mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah berpihak kepada anak-anak muda. "Kebijakan Pak  Jokowi akan berbeda dari periode pertama dengan adanya kehadiran kami," ujar Amin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.