TNI Terpapar Radikalisme, Kepala BNPT: Data Ryamizard Tak Akurat

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Suhardi Alius di Auditorium Universitas Andalas, Padang, 8 Agustus 2018. Istimewa

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Suhardi Alius di Auditorium Universitas Andalas, Padang, 8 Agustus 2018. Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta-Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT Komisaris Jenderal Suhardi Alius menyebut data 3 persen Tentara Nasional Indonesia (TNI) terpapar radikalisme tidaklah akurat. Data itu sebelumnya diungkapkan oleh Ryamizard Ryacudu saat masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan.

    Suhardi mengaku, BNPT tak memiliki data yang disinggung Ryamizard itu. Dia pun mempersilakan hal itu ditanyakan ke Markas Besar TNI.

    "Tidak akurat Pak. Tidak (ada datanya). Mungkin Bapak bisa tanya sama Mabes TNI," kata Suhardi menjawab pertanyaan anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Sarifuddin Suding dalam rapat kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 21 November 2019.

    Suhardi menceritakan, dirinya langsung ditelepon oleh Wiranto--ketika itu Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan--setelah Ryamizard mengeluarkan pernyataan itu. Wiranto menanyainya dari mana sumber data itu.

    "Kami ditelepon Pak Wiranto langsung, Hardi dari mana data itu? Kami juga tidak tahu Pak, silakan Bapak tanya Pak Menhan karena kami juga tidak punya data itu," kata Suhardi.

    Suhardi mengatakan pihaknya memang memiliki informasi ihwal paparan radikalisme di pelbagai institusi. Kata dia, radikalisme juga ada di kalangan anggota Aparatur Sipil Negara (ASN). BNPT pun bekerja sama dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) merespons hal ini.

    Suhardi berujar radikalisme juga ada di perguruan tinggi. Namun dia menyebut BNPT tak pernah merilis data ihwal tingkat radikalisme agar tidak malah menimbulkan kekeruhan.

    "Jangan sampai kalau kita merilis apalagi ada perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Terus mau ke mana anak-anak kita mau ke mana anak-anak Indonesia? Tugas kamilah mereduksi untuk menghilangkan itu tapi tidak dengan merilis itu, konsep kami tidak seperti itu," ujarnya.

    Dia mengimbuhkan, BNPT memberikan ceramah kepada guru besar ihwal NKRI. Namun BNPT juga menekankan agar siapa pun tidak merilis data apa pun yang bisa memperkeruh suasana.

    "Janganlah rilis hal yang memperkeruh suasana yang menimbulkan ketakutan, ini yang kami coba akselerasi," ucapnya.

    Ryamizard sebelumnya menyebut ada 3 persen anggota TNI terpapar radikalisme. Hal tersebut disampaikan Ryamizard saat acara halal bihalal Mabes TNI di GOR Ahmad Yani, Cilangkap, Jakarta.

    "Kurang lebih tiga persen, kurang lebih tiga persen, ada TNI yang terpengaruh radikalisme," ujar Ryamizard, Rabu, 19 Juni 2019.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.