Ahok: Kayaknya Hidupku Ditolak Melulu

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sandiaga Uno dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. TEMPO/Imam Sukamto

    Sandiaga Uno dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menanggapi komentar Rizal Ramli yang menyebutnya kelas Glodok. Rizal Ramli menganggap Ahok tak layak menjadi petinggi Badan Usaha Milik Negara.

    Ahok justru berterima kasih karena disebut kelas Glodok. Sebab, Glodok merupakan salah satu pusat jual beli di Jakarta. "Disamain orang Glodok saya kaya dong," kata Ahok sebelum mengisi Workshop Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota di Hotel Grand Arkenso Semarang, Rabu 20 November 2019.

    Sebelumnya, menanggapi kabar penunjukan Ahok sebagai komisaris utama Pertamina, Rizal Ramli menilai Presiden Jokowi hanya mencari masalah.

    Selain pernah bermasalah dengan hukum, menurut Rizal Ramli, Ahok tak punya pengalaman korporasi. Kalaupun Presiden Jokowi ingin keturunan Tionghoa menjadi pejabat BUMN, masih banyak eksekutif dari kalangan Tionghoa yang lebih baik, bukan kelas Glodok.

    Menjawab itu, Ahok mengatakan tidak mudah menjalankan usaha di Glodok. Pasalnya, untuk mendapatkan lokasi usaha di sana biaya sewanya cukup mahal. "Dikira gampang jadi orang Glodok, sewa tempatnya mahal. Saya terima kasih," ujar dia.

    Ahok juga menanggapi sejumlah penolakan dirinya menjadi petinggi Pertamina. Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut menganggap penolakan itu hal yang wajar.

    "Hidup ini nggak ada yang bisa setuju seratus persen. Tuhan aja ada yang menentang kok," tutur Ahok. "Kayaknya hidupku ditolak melulu." Namun, Ahok mengaku bersedia jika memang ditunjuk dan diminta menjadi petinggi BUMN tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.