Fahri Hamzah Kritik Kemesraan PKS dengan Partai Tommy Soeharto

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fahri Hamzah (kiri) bersama Anis Mata saat merayakan Hari Sumpah Pemuda dengan Partai Gelora. Instagram/@partai_gelora

    Fahri Hamzah (kiri) bersama Anis Mata saat merayakan Hari Sumpah Pemuda dengan Partai Gelora. Instagram/@partai_gelora

    TEMPO.CO, Jakarta - Bekas Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengkritik partai-partai yang menggunakan terminologi sebagai partai oposisi belakangan ini. Termasuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Berkarya besutan Tommy Soeharto yang menyebut bakal menjadi oposisi.

    Menurut Fahri, dalam sistem presidensial, tidak ada istilah oposisi. Namun, fungsi tersebut diletakkan di lembaga legislatif. Sehingga, kata dia, partai yang lolos parlemen lah yang dapat menjalankan fungsi oposisi. Untuk itu, Fahri mendorong partai-partai memperkuat independensi DPR.

    "Pertanyaannya, apakah PKS komit membuat anggotanya yang di DPR independen? Yang jelas, PKS tidak paham arti oposisi," ujar Fahri Hamzah saat dihubungi Tempo pada Rabu, 20 November 2019.

    Daripada sibuk bermanuver, Fahri mengingatkan PKS agar tak lupa untuk segera menyelesaikan urusan mereka di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terkait gugatan Fahri Hamzah yang dikabulkan majelis hakim. PKS harus membayar ganti rugi sebesar Rp 30 Miliar kepada Fahri Hamzah atas pemecatannya dari keanggotaan PKS yang tak sesuai prosedur.

    "Jangan bahas yang lain-lain dulu, selesaikan saja urusan yang di pengadilan. Kalau diselesaikan, kan kita bisa tenang," kata Fahri Hamzah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.