BNPT Nilai Pemblokiran Website Tak Mengatasi Teroris Lone Wolf

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Personel Gegana Korps Brimob Polri membawa barang saat bersama Tim Densus 88 Mabes Polri menggeledah rumah terduga teroris di Desa Setia Mekar, Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu 16 Oktober 2019. Tim Densus 88 menangkap seorang terduga teroris berinisial A  serta mengamankan sejumlah barang bukti diantaranya dua buah pemantik  dan buku-buku yang berkaitan dengan jihad. ANTARA FOTO/SEPTIANTO

    Personel Gegana Korps Brimob Polri membawa barang saat bersama Tim Densus 88 Mabes Polri menggeledah rumah terduga teroris di Desa Setia Mekar, Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu 16 Oktober 2019. Tim Densus 88 menangkap seorang terduga teroris berinisial A serta mengamankan sejumlah barang bukti diantaranya dua buah pemantik dan buku-buku yang berkaitan dengan jihad. ANTARA FOTO/SEPTIANTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris mengatakan pemblokiran situs-situs radikal tak akan mengatasi pola serangan teroris yang bergerak sendiri (lone wolf). Ia mengatakan pemblokiran hanya upaya sementara yang tak bisa bertahan lama.

    "Kalau ditutup satu, jangankan situs teror, pornografi saja ditutup satu, tumbuh seribu," kata Irfan saat ditemui di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Sabtu, 16 November 2019.

    Irfan mengatakan sejak 2014, BNPT bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menyisir berbagai website berisi konten negatif. Beragam macam website, mulai dari yang berisi pornografi hingga berisi ajaran yang tak dijelaskan secara komprehensif, dilaporkan untuk ditutup.

    Tapi dalam penerapannya, proses berjalan lebih panjang. Regulasi yang ada mengharuskan pemerintah harus memberi teguran beberapa kali, sebelum akhirnya bisa menjatuhkan sanksi kepada pemilik website.

    Sanksi tak bisa diberikan begitu saja, karena akan menyalahi aturan soal kebebasan informasi. "Teguran ke sekian baru diblokir, tapi situsnya tetap tak ditutup," kata dia.

    Karena itu, Irfan meyakini pola pemblokiran semacam itu tak akan efektif untuk menangkal penyebaran paham radikal. Perlu upaya yang lebih kultural untuk menangkal paham ini.

    "Solusinya bukan pada membatasi, tapi pada bagaimana melakukan edukasi kepada teman-teman penggiat dunia maya agar ikut menyuarakan bagaimana kearfian lokal yang kita miliki, bagaimana kita saling menghargai," kata Irfan.

    Aksi lone wolf belakangan kembali dilakukan saat teror bom bunuh diri di Polrestabes Medan, pada Rabu lalu. Pelaku diduga belajar dan terpapar paham radikalisme lewat pembelajaran sendiri dengan modal akses internet.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.