Dapat John Maddox Prize, Bambang Hero: Seperti Mimpi

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB yang sekaligus juga ahli karhutla, Profesor Bambang Hero Saharjo.

    Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB yang sekaligus juga ahli karhutla, Profesor Bambang Hero Saharjo.

    TEMPO.CO, Jakarta - Guru besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Bambang Hero Saharjo, mengaku tidak pernah menyangka bisa mendapatkan anugerah sains John Maddox Prize 2019, yang diserahkan di London, Selasa, 12 November 2019.

    "Saya hampir tidak percaya menerima award tersebut di London, seperti mimpi dan tidak pernah berpikir untuk mendapat penghargaan tersebut," ujar Bambang saat dihubungi Tempo pada Kamis, 14 November 2019.

    Bambang adalah pakar forensik kebakaran hutan dan lahan yang menjadi saksi ahli melawan ratusan perusahaan pelaku karhutla di persidangan. Bambang menyisihkan 206 calon terpilih yang berasal dari 38 negara, demikian siaran pers dari  Aminudin Aziz, Atdikbud KBRI London.

    Dewan Juri John Maddox Prize terdiri dari tokoh-tokoh ilmuwan Inggris yang dihimpun oleh sebuah organisasi nirlaba Sense about Science menetapkan Bambang sebagai pemenang karena kegigihannya menggunakan data penelitiannya sebagai bukti untuk melawan pandangan yang salah terkait dengan kebakaran hutan di Indonesia.

    "Alhamdulillah juri dan timnya melihat konsistensi saya yang hampir selama 20 tahun menggunakan bukti ilmiah (scientific evidence) di ruang pengadilan untuk menunjukkan kebenaran," ujar Bambang.

    Menurut Bambang Hero, yang dilakukannya selama ini adalah memulihkan hak publik agar mendapatkan hak konstitusinya atas lingkungan yang lebih baik menggunakan instrumen hukum berdasarkan bukti ilmiah. "Prize tersebut memberi dukungan untuk saya terus maju melawan para perusak lingkungan," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.