Mahfud Md Sebut Bom di Polrestabes Medan Sebagai Aksi Jihadis

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahfud MD tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 21 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

    Mahfud MD tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 21 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md mengatakan bom bunuh diri yang terjadi di Polrestabes Medan, diyakini pelaku merupakan bentuk jihad. Ia menyebut bom bunuh diri itu merupakan bentuk lanjutan dari paham radikal yang terpapar di sejumlah masyarakat.

    Mahfud menyebut radikal itu memiliki tiga tingkatan. Pertama menganggap orang lain musuh, kedua melakukan pengeboman teror, lalu ketiga adu wacana tentang ideologi.

    "Ini sekarang sudah masuk yang kedua, yakni teror. Jihadis namanya kalo dalam bahasa yang populer," kata Mahfud saat ditemui di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu pagi, 13 November 2019.

    Bom meledak di Markas Polrestabes Medan pada Rabu pagi 13 November 2019. Enam orang terluka, terdiri dari 4 polisi dan dua sipil. Adapun terduga pelaku tewas di lokasi. Polisi mengungkap pelakunya bernama Rabbial Muslim Nasution. Tetangga mengenal RMN sebagai penjual bakso bakar.

    Grafis Bom Polrestabes Medan

    Peristiwa bom di Polrestabes Medan ini diharapkan Mahfud menjadi jalan bagi pemerintah untuk menguak jaringan yang ada di Medan.
    Seperti halnya saat eks Menkopolhukam Wiranto diserang di Banten beberapa waktu lalu, pemerintah menangkap sejumlah orang yang diduga berpaham radikal, setelah pelaku ditangkap.

    "Di Medan jaringannya juga harus dicari. Bukan hanya satu korban dan mencari yang satu itu. Dan itu tugas negara untuk hadir di situ," kata Mahfud.

    Meski begitu, Mahfud Md enggan menyebut sikap pemerintah ini seakan harus menunggu korban sebelum mengambil tindakan. Ia menyebut selama ini pemerintah sudah mati-matian menekan jumlah korban.

    "Coba kalau nunggu korban jatuh, mungkin sudah banyak peristiwa terjadi," kata Mahfud.

    Mahfud mengatakan, dari data yang ia miliki, secara kuantitatif jumlah teror terus turun tiap tahunnya. Hal ini ia sebut menjadi indikasi bahwa upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah sudah lebih baik. Meski beberapa kali aksi teror tetap terjadi, namun itu cukup berhasil menunjukkan angka kuantitatifnya turun dibanding 2017 dan 2018.

    Mahfud pun meminta agar masyarakat tak terlalu nyinyir terhadap aksi pemerintah dalam memberantas terorisme. Jika pemerintah bertindak, wacana yang muncul adalah pelanggaran HAM, sementara jika pemerintah gak bertindak disebut kecolongan.

    "Kita sama-sama dewasa menjaga negara ini. Orang nyinyir itu kalau mengkritik, kalau terjadi sesuatu hanya bilang, loh saya kan cuma usul. Sudah terjadi dia tak mau tanggung jawab," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.