Polda Papua Maksimalkan Anggota Setempat untuk 5 Polres Baru

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw (kiri) menyalami anggota TNI di sela-sela upacara apel gabungan di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin 14 Oktober 2019. TNI dan Polri bersinergi untuk meningkatkan pengamanan di Wamena. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

    Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw (kiri) menyalami anggota TNI di sela-sela upacara apel gabungan di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin 14 Oktober 2019. TNI dan Polri bersinergi untuk meningkatkan pengamanan di Wamena. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Paulus Waterpauw akan memaksimalkan terlebih dulu anggota yang bertugas di Polda Papua untuk mengisi posisi di lima kepolisian resor baru.

    "Maksimalkan yang ada dulu saja. Mudah-mudahan bisa sampai 40 atau 50 persen terisi," ujar Paulus saat dihubungi, Senin, 11 November 2019.

    Mabes Polri telah menyetujui pembentukan lima Polres baru di Papua. Lima kabupaten yang akan segera memiliki Pores adalah Kabupaten Puncak, Kabupaten Nduga, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Deiyai, dan Kabupaten Yalimo.

    Pembentukan Polres itu, kata Paulus, merupakan usulan dari pihaknya, Kepolisian Daerah Papua dengan berbagai macam pertimbangan. "Kabupaten kan sudah lama berdiri, seharusnya ada polisi yang berjaga keamanannya, dan juga untuk melayani masyarakat," ucap dia.

    Rencananya kelima Polres ini akan mulai beroperasi pada tahun depan. Paulus mengatakan, pihaknya akan terlebih dulu menyiapkan bangunan untuk dijadikan markas dan tempat tinggal untuk para personelnya nanti.

    "Rapikan dulu, tahun depanlah. Bangun tempat tinggal dan markas, bangun bersamaan. Kasihan kalau markasnya bagus tapi tempat istirahatnya enggak layak," ujar Paulus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.