Sandiaga Ingin pemerintah Punya Solusi soal Impor Pacul

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sandiaga Uno bersama istrinya Nur Asia Uno menghadiri Rapat Pimpinan Nasional dan Apel Kader Partai Gerindra di Padepokan Garudayaksa Partai Gerindra, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Rabu 16 Oktober 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    Sandiaga Uno bersama istrinya Nur Asia Uno menghadiri Rapat Pimpinan Nasional dan Apel Kader Partai Gerindra di Padepokan Garudayaksa Partai Gerindra, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Rabu 16 Oktober 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus Partai Gerindra Sandiaga Uno menilai pengadaan pacul dan cangkul impor adalah sebuah ironi. Dia ingin pemerintah segera mencari solusinya.

    "Ironis. Tapi sudah saatnya kita enggak angkat isu-isu yang, ya salah kita sendiri. Jadi alangkah baiknya kalau ada solusinya," kata Sandiaga di Jakarta Selatan pada Ahad, 10 November 2019.

    Mantan calon wakil presiden ini mempertanyakan ketahanan pangan Indonesia jika alat pertanian masih didominasi produk impor. Padahal menurutnya, Indonesia kaya raya dan punya kemampuan.

    "Saya anggap pernyataan Presiden itu justru jadi pemicu kita. Kita harus mulai lebih disiplin untuk memastikan, bukan hanya jadi wacana, tapi action plan bagaimana menurunkan impor kita," ujar Sandiaga.

    Sandiaga menegaskan, dia tak mau terjebak pada satu isu yang menjadi trending topic lalu terlupakan setelah 2-3 hari. Dia ingin pemerintah membuat action plan.

    "Saya ingin ada action plan. Presiden angkat isu pancul impor, harus ada action plan. Nggak hanya pemerintah, tapi stakeholder, dunia usaha dan masyarakat," katanya.

    Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyayangkan banyak barang yang diimpor dari luar negeri padahal industri dalam negeri bisa memproduksinya.

    Jokowi mencontohkan besarnya angka volume impor untuk pengadaan pacul dan cangkul. "Ini puluhan ribu, ratusan ribu cangkul yang dibutuhkan masih impor," katanya dalam acara Rakornas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah 2019 di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu, 6 November 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.