Cerita Fahri Hamzah Deddy Mizwar Ditolak PKS, Ditarik ke Gelora

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah usai melayat almarhum BJ Habibie di rumah duka, Jalan Patra Kuningan XIII, Jakarta Selatan, Rabu malam, 11 September 2019. TEMPO/Lani Diana

    Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah usai melayat almarhum BJ Habibie di rumah duka, Jalan Patra Kuningan XIII, Jakarta Selatan, Rabu malam, 11 September 2019. TEMPO/Lani Diana

    TEMPO.CO, Jakarta-Wakil Ketua Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Fahri Hamzah menceritakan soal Deddy Mizwar yang sempat ditolak bergabung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Deddy disebut-sebut akan bergabung dengan Partai Gelora yang baru didirikan oleh Fahri dan Anis Matta, mantan politikus PKS.

    “Pak Deddy Mizwar sendiri, saat itu kami sudah menarik ke PKS. Tapi di PKS dibuang gitu aja, dan beliau ada pertanyaan, ‘kurang apa saya? Kok ditolak PKS?’,” kata Fahri menirukan Deddy.

    Fahri berujar komunikasi antara dia dengan Deddy memang sudah terjalin lama. Menurutnya sudah sekitar 10 tahun ia berkomunikasi dengan aktor senior itu, melakukan penyamaan visi dan penyatuan hati untuk menarik Deddy beralih dari Demokrat ke PKS saat itu.

    Karena ditolak PKS, tutur Fahri, Gelora siap membuka payung besar. “InsyaAllah akan kami buka,” tuturnya.

    Sebelumnya Deddy, yang juga mantan Wakil Gubernur Jawa Barat, mengaku sudah mengirimkan surat pengunduran diri dari Partai Demokrat lantaran akan bergabung ke Partai Gelora. Meski belum mendapat balasan, Deddy yakin SBY memahami keputusannya itu.

    "Pak SBY juga orang sangat memahami-lah terhadap hal tersebut. Saya yakin itu," kata Deddy kepada Tempo, Jumat, 8 November 2019.

    Selain Deddy, menurut Fahri, struktur lainnya juga akan berkembang. Namun, Fahri mengaku enggan gembar-gembor siapa saja tokoh-tokoh yang akan bergabung karna masih dalam tahap pendaftaran. “Mohon maaf kepada teman-teman media kami enggak jor-joran, kami ingin terlihat low profile,” tuturnya.

    FIKRI ARIGI | BUDIARTI UTAMI PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.