Nilai Empat Pilar Dalam Lakon Wayang Golek

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto bersama saat Pagelaran Seni Budaya (PSB) Wayang Golek dalam rangka Sosialisasi Empat Pilar MPR, di  Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu malam (9/11/2019.

    Foto bersama saat Pagelaran Seni Budaya (PSB) Wayang Golek dalam rangka Sosialisasi Empat Pilar MPR, di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu malam (9/11/2019.

    INFO NASIONAL — Pagelaran Seni Budaya (PSB) Wayang Golek dalam rangka Sosialisasi Empat Pilar MPR kembali menyambangi masyarakat Tatar Pasundan, tepatnya di kota Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu, 9 November 2019.

    Seperti halnya wilayah lain di Jawa Barat, ketika digelar pertunjukan wayang golek, respon masyarakat sekitar sangat luar biasa. Hal tersebut juga terjadi saat pagelaran yang dipusatkan di lapangan Demokrat Sport Center Cibinong, tidak jauh dari pusat pemerintahan daerah Kabupaten Bogor.

    Dengan tatanan panggung yang apik, apalagi tampilnya kolaborasi dua dalang dalam satu panggung yang memang sangat dikenal di wilayah Bogor, Ki Ujang Bukhari dan Ogi Sabda Permana dari padepokan Pusaka Tumaritis serta ditambah hadirnya anggota Fraksi Demokrat MPR, Anton Sukartono Suratto dan Kepala Biro Humas Setjen MPR, Siti Fauziah, acara pun semakin semarak.

    Turut hadir dalam pagelaran tersebut, beberapa tamu undangan antara lain, perwakilan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Bogor, Bambang Sumantri dan beberapa tokoh masyarakat serta perangkat desa sekitar.

    Dalam sambutannya sebelum pagelaran dimulai, Anton memberikan apresiasinya kepada para tokoh masyarakat dan masyarakat sekitar yang hadir menyaksikan acara PSB MPR. Hal tersebut merupakan bentuk dukungan masyarakat kepada upaya-upaya MPR dalam memberikan pemahaman tentang nilai luhur bangsa, yang ujungnya adalah persatuan bangsa.

    Terkait persatuan bangsa, tambah Anton, bangsa Indonesia mesti mensyukuri nikmat persatuan yang terus terjaga hingga kini.  Dengan begitu besarnya keragaman yang ada di Indonesia, seluruh elemen negara mampu menjaganya tetap satu dalam wadah NKRI, di saat banyak negara yang pecah, walaupun keragamannya tidak sebesar dan seluas Indonesia.

    "Terima kasih kami sekali lagi untuk masyarakat. Untuk diketahui masyarakat bahwa kegiatan sosialisasi ini dengan berbagai metode termasuk pagelaran seni budaya wayang golek, sudah berjalan 10 tahun. Ini membuktikan bahwa MPR peduli dan akan terus peduli terhadap persatuan dan kesatuan bangsa," katanya.

    Di kesempatan yang sama, Siti Fauziah juga menyampaikan bahwa pertama, kegiatan pertunjukan wayang golek tersebut adalah salah satu metode penyampaian Sosialisasi Empat Pilar MPR. Kedua, MPR ingin sekaligus melestarikan budaya-budaya daerah yang sangat kaya. Ketiga, MPR ingin menggali budaya-budaya daerah yang tidak hanya sekedar menjadi tontonan, juga menjadi tuntunan untuk masyarakat.

    "Upaya-upaya pelestarian budaya semakin menjadi sangat penting di era modern ini. Jangan sampai, ketika kita tidak memperhatikan lagi, budaya sendiri lama kelamaan malah semakin hilang dan tergantikan dengan budaya luar," ujarnya.

    Siti Fauziah berharap ke depan, MPR dan elemen-elemen bangsa lainnya mampu terus bersinergi untuk bisa lebih banyak menggali budaya-budaya daerah lainnya terutama yang berpotensi dan terancam makin punah.

    Usai prosesi penyerahan secara simbolik satu karakter wayang dari Anton ke Ki Dalang, dua dalang kemudian segera beraksi membawakan lakon atau cerita "Jaya Bhinneka" yang sarat dengan pesan moral, antara lain cara mempersatukan bangsa dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai luhur bangsanya.

    Ada beberapa adegan di tengah pertunjukan yang sangat kental ajakan untuk memahami serta mengimplementasikan nilai luhur bangsa dengan baik. Diantaranya, adegan saat tokoh sentral Cepot sedang berbincang dengan keluarganya, Semar, Dawala, dan Gareng.

    Saat itu, Cepot menjelaskan bahwa dalam berbahasa harus imbang antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia yang merupakan bahasa persatuan. Bahasa daerah digunakan untuk pelestarian budaya.  Sedangkan bahasa Indonesia, digunakan untuk menjaga persatuan.

    Lalu, ada satu adegan dimana Cepot sangat kesal kepada Dawala yang dianggapnya sombong, karena terlalu membangga-banggakan dirinya di hadapan keluarganya. Cepotpun mengingatkan Dawala agar selalu rendah hati walaupun hebat, berlaku sombong tidak sesuai dengan nilai luhur bangsa.

    "Kamu harus ingat nilai-nilai luhur bangsa kita yang agung, Dawala," ucap Cepot kepada adiknya. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.