Novel Baswedan Sebut Dewi Tanjung Ngerjai Polisi

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik senior KPK, Novel Baswedan usai melakukan pertemuan dengan Advocacy Manager Amnesty International Asia-Pacific, Francisco Bencosme, di gedung KPK, Jakarta, Jumat, 26 April 2019. TEMPO/Imam Sukamto

    Penyidik senior KPK, Novel Baswedan usai melakukan pertemuan dengan Advocacy Manager Amnesty International Asia-Pacific, Francisco Bencosme, di gedung KPK, Jakarta, Jumat, 26 April 2019. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyidik senior KPK Novel Baswedan menuding Dewi Tanjung ingin mengerjai polisi ketika melaporkan dirinya soal rekayasa kasus. Novel menduga Dewi sebenarnya tahu bahwa tudingannya itu tidak benar.

    "Saya khawatir jangan-jangan dia ini sebenarnya tahu bahwa yang dia omongin itu enggak bener, dan saya khawatir dia ini melaporkan ke polisi dalam rangka ngerjai polisi," kata Novel Baswedan di Kantor Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Sabtu, 9 November 2019.

    Kalau dugaannya itu benar, kata Novel, polisi seharusnya tahu bahwa ada delik pidana yang bisa menjerat Dewi, yakni laporan bohong. Menurut dia, polisi perlu memberi pelajaran supaya tak ada lagi orang yang melakukan laporan bohong.

    "Saya khawatir orang-orang yang pola-pola begini, ini bisa ditiru oleh orang lain," katanya.

    Sebelumnya, seseorang bernama Dewi Tanjung melaporkan Novel ke Polda Metro Jaya. Dewi berpendapat kasus penyiraman air keras Novel Baswedan merupakan rekayasa. Menurut dia, terdapat banyak kejanggalan dalam kasus itu, seperti efek dari air keras yang hanya merusak bagian mata Novel. Menurut dia, dampak dari air keras seharusnya juga merusak hingga bagian pipi.

    Atas tudingan ini, tim advokasi Novel Baswedan dalam kasus penyiraman air keras berencana melaporkan balik Dewi Tanjung. Tim advokasi menilai laporan Dewi adalah fitnah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.