Jurnalis Net TV Tak Percaya Penyerangan Novel Baswedan Settingan

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik KPK Novel Baswedan menaiki kursi roda di sebuah rumah sakit di Singapura, pada 2017. Novel menjalani sejumlah operasi mata di Singapura akibat disiram air keras oleh dua orang tak dikenal di dekat rumahnya, di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 11 April 2017. Istimewa

    Penyidik KPK Novel Baswedan menaiki kursi roda di sebuah rumah sakit di Singapura, pada 2017. Novel menjalani sejumlah operasi mata di Singapura akibat disiram air keras oleh dua orang tak dikenal di dekat rumahnya, di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 11 April 2017. Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Jurnalis NET TV Delviana Azari merasa takjub jika ada orang yang menuduh penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan hanya rekayasa belaka. "Gue juga wow kalau ada orang yang berpikiran kalau ini setting-an,” kata Delviana melalui YouTube yang diunggah Kamis, 7 November 2019.

    Delviana adalah jurnalis yang meliput saat Novel pada 19 April 2017 di Singapore General Hospital. Sejumlah akun di media sosial memotong video liputan NET TV itu dan menyatakan bahwa serangan terhadap Novel hanya rekayasa. 

    Delvi memberikan klarifikasi melalui video berdurasi 23:44 menit yang diunggah dalam akun YouTube pribadinya. Dalam videonya, dia bercerita bahwa ketika itu kondisi mata Novel tidak terlihat seperti mata orang umum. Sebelum berangkat, mata Novel diperban. Ketika Delvi meliput, perban itu sudah dibuka. “Sudah dilepas, tapi di sekitar jidat di sekeliling mata kayak ada oranye-oranye kayak Betadine gitu," kata Delviana dalam akun YouTube.

    Ia mempertanyakan tuduhan rekayasa atas serangan terhadap mantan perwira polisi itu. “Kalau settingan, kenapa Novel Baswedan memilih dirawat di Rumah Sakit Singapura? Kalau ini rekayasa, masa iya sih rumah sakit di luar negeri mau diajak kongkalikong?” Jika itu dilakukan, menurut Delvi, ini akan mempertaruhkan martabat bangsa.

    Hal kedua yang harus dipertanyakan jika kejadian itu hanya rekayasa adalah penjagaan. “Pikir pakai logika, dia dijaga, dikawal. Saat gue ngerekam, kalau itu memang settingan, pasti mereka enggak akan izinin gue ambil gambar kondisi saat itu logikanya dong," kata Delviana. 

    Delviana mengatakan yang paling membuatnya ngeri adalah kondisi bola mata Novel. “Kalau menurut akun itu it looks so fine, gue lihat miris bola mata yang gue lihat, yang gue rekam, mata kami beradu pandang.” Sehingga, tak ia yakin tak keliru melihat mata Novel.

    Ia memandang bola mata Novel. “Bola matanya saat itu warnanya kayak kelereng kehijauan dan sama sekali tidak terlihat normal."  

    Kulit di sekitar mata Novel disebutnya baik-baik saja. "Nah beliau sempat bilang perawatan di rumah sakit di Singapura sangat baik, sehingga luka di kulitnya cepat pulih."

    Di penghujung video yang diizinkannya dikutip Tempo, Delviana mempertanyakan sejumlah akun yang kembali mengangkat video liputan itu dan memberikan narasi berbeda dengan yang dilihatnya tentang Novel Baswedan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.