4 Pernyataan Surya Paloh di Kongres II NasDem

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh (kiri) berpelukan dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman usai menyampaikan hasil pertemuan tertutup kedua partai di DPP PKS, Jakarta, Rabu, 30 Oktober 2019. Pertemuan tersebut dalam rangka silaturahmi kebangsaan dan menjajaki kesamaan pandangan tentang kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. ANTARA

    Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh (kiri) berpelukan dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman usai menyampaikan hasil pertemuan tertutup kedua partai di DPP PKS, Jakarta, Rabu, 30 Oktober 2019. Pertemuan tersebut dalam rangka silaturahmi kebangsaan dan menjajaki kesamaan pandangan tentang kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh memberikan pidato dalam pembukaan Kongres II Partai NasDem di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Jumat 8 November 2019. Berikut ini 4 pernyataan pemilik Media Grup:

    1. Surya Paloh menyindir partai-partai yang memiliki sinisme dan kecurigaan terhadap partainya karena bersafari ke partai di luar koalisi seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Menurut Surya Paloh, partai-partai yang sinis itu tidak berkarakter Pancasila dan tidak pantas mengaku pancasilais.

    "Ngakunya partai nasionalis, pancasilais. Buktikan aja. Jangan ngaku pancasilais kalau masih sinis, melakukan propaganda kosong, sudah pasti bukan pancasilais itu," ujar Surya Paloh. 

    Menurut Surya Paloh, partai yang pancasilais adalah partai yang bisa bersikap rendah hati dan merangkul teman.

    "Salam teman. Tawarkan pikiran-pikiran bersama teman. Jangan musuhi teman. Ah, itu baru ini namanya mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Kalau tidak dijalankan, yang paling menangis adalah proklamator bangsa ini," kata Surya.

    2. Surya Paloh meminta partai-partai lebih dewasa dan tak saling curiga ketika ada partai koalisi pendukung pemerintah yang menjalin komunikasi dengan oposisi, seperti yang dilakukan NasDem dan PKS.

    "Kami berkunjung ke kawan pun dicurigai, ini bangsa model apa? Rangkulan pun dimaknai tafsir kecurigaan. Kita mengaku demokratis, tapi begitu ortodoks dan konservatif," ujarnya.

    Menurut Surya, fenomena ini menimbulkan paradoks dan membuat bangsa Indonesia melangkah ke belakang.

    "Bangsa ini sudah capek dengan segala intrik yang mengundang sinisme, kecurigaan satu sama lain. Tingkat diskursus politik yang paling picik di negeri ini, rangkulan dimaknai dengan berbagai macam tafsir dan kecurigaan," katanya.

    3. Surya Paloh mengatakan ada partai yang menyatakan setia mendampingi Presiden Joko Widodo. Namun menurutnya, ucapan itu mesti dibuktikan lewat perbuatan.

    "Karena apa? Karena nanti (jika) ada ujian berat yang dijalani Bapak Presiden, jangan-jangan hanya tinggal NasDem yang bersama Bapak Presiden," kata Surya.

    Dia mengatakan, NasDem harus membuktikan komitmen untuk mengawal pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin hingga sukses mencapai tujuan. Namun, dia menegaskan keberadaan NasDem di koalisi bukan menutup sikap kritis. Dia menyebut NasDem tidak hanya melayani kepentingan partai koalisi.

    "Kalau kita mau, memperoleh kursi yang lebih tinggi lagi maka diperlukan konsistensi ucapan dan perbuatan. Diperlukan komitmen kesetiaan yang mengikat, bukan hanya janji sembarang janji. Kami bangga berada di NasDem. Kami bangga memiliki NasDem. Tapi kita harus lebih berbangga lagi menjadi rakyat dan warga negara Indonesia. Itu lah manifesto kita. Jadi bukan dasar NasDem partai pengusung pemerintah kemudian hanya memikirkan kepentingan koalisi," ujarnya.

    4. Surya Paloh menegaskan, Partai NasDem akan menjalankan komunikasi politik yang cair dengan berbagai pihak. Baik dengan Partai Politik dalam koalisi pemerintahan, maupun di luar pemerintahan.

    "Komunikasi politik yang dijalankan oleh NasDem begitu cair, baik partai yang ada di dalam pemerintahatau di luar pemerintahan. NasDem amat bisa memahami tekad dan semangat kita sebagai institusi parpol," ujarnya.

    Menurut dia, partai politik berperan strategis dalam kehidupan sistem demokrasi di Indonesia, khususnya untuk melakukan proses pendidikan politik berkelanjutan.

    "Itulah kewajiban bagi parpol untuk mengedepankan nasional interest, kepentingan bangsa di atas kepentingan partai ini sendiri. Tidak ada rasanya kita dengan rasa gegap gempita kalau hanya memikirkan institusi parpol itu sendiri. NasDem bukan tipe parpol seperti itu," kata Surya Paloh

    HALIDA BUNGA FISANDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.