Setelah Jokowi, Hasto Ikut Sindir Kedekatan NasDem dan PKS

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Hasto Kristiyanto, usai menemani Megawati Soekarnoputri dalam pertemuan antara PDIP dan Departemen Internasional Partai Komunis Cina di Hotel Mandarin, Jakarta, 18 September 2019. TEMPO/Ahmad Faiz

    Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Hasto Kristiyanto, usai menemani Megawati Soekarnoputri dalam pertemuan antara PDIP dan Departemen Internasional Partai Komunis Cina di Hotel Mandarin, Jakarta, 18 September 2019. TEMPO/Ahmad Faiz

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto, turut menyindir kedekatan antara Partai Nasional Demokrat (NasDem) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ia mengatakan konsistensi dalam menjalankan posisi baik di koalisi maupun oposisi adalah hal penting.

    “Dialog di antara para pemimpin partai memang bagian dari tradisi demokrasi kita. Tetapi konsistensi di dalam menjalankan posisi politik di dalam koalisi ataupun berada di luar pemerintahan itu juga sangat penting,” kata Hasto ditemui di gedung Arsip Nasional, Jakarta, Jumat 8 November 2019. 

    Sebelumnya Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyindir kedekatan antara NasDem dan PKS yang ditandai dengan pertemuan Surya Paloh dengan Sohibul Iman di kantor DPP PKS, akhir Oktober lalu. Ia mengatakan setelah pertemuan itu Surya Paloh nampak lebih cerah, dan cara bagaimana ia merangkul Sohibul saat itu ia nilai tak biasa. "Saya tidak tahu maknanya tapi rangkulannya tidak biasa. Tidak pernah saya dirangkul seperti itu," kata Jokowi dalam pidatonya di perayaan Ulang Tahun Partai Golkar ke-55 di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu, 6 November 2019

    Menurut Hasto, sindiran itu merupakan responnya terhadap pertemuan antara NasDem dan PKS. “Bapak Presiden Jokowi dengan caranya sudah menyampaikan berbagai hal terkait dengan pertemuan itu,” ucap dia.

    Menyindir, Hasto menampik bahwa NasDem kini menjauhi koalisi. Menurut dia dialog antara Paloh dan Sohibul lazim, dan merupakan tradisi dari demokrasi Indonesia. “Jadi tidak ada yang menjauh tidak ada yang mendekat.”

    FIKRI ARIGI | BUDIARTI UTAMI PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.