Wartawan Net TV Angkat Bicara Soal Video Liputan Novel Baswedan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik KPK Novel Baswedan ditemani kerabat saat dirawat di sebuah RS di Singapura, pada 2017. Serangan dengan air keras itu mengenai kedua mata dan merusak mata kirinya. Istimewa

    Penyidik KPK Novel Baswedan ditemani kerabat saat dirawat di sebuah RS di Singapura, pada 2017. Serangan dengan air keras itu mengenai kedua mata dan merusak mata kirinya. Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Jurnalis NET TV Delviana Azari angkat bicara perihal potongan video liputannya yang diunggah ulang dengan narasi bahwa insiden penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan adalah rekayasa.

    Delviana merupakan jurnalis yang saat itu ditugaskan untuk meliput langsung ke Singapura. Ia pun memberikan klarifikasi melalui video berdurasi 23:44 menit yang diunggah dalam akun YouTube pribadinya.

    Delviana mengatakan video itu diambil sekitar 19 April 2017 di Singapore General Hospital. Dalam videonya, dia bercerita bahwa ketika itu kondisi mata Novel tidak terlihat seperti mata orang umum. 

    "Kalau gue boleh menceritakan apa yang gue lihat saat itu, kondisi mata dari Novel Baswedan itu. Kan waktu sebelum berangkat beliau kan sempat diperban, nah waktu itu udah enggak diperban. Sudah dilepas, tapi di sekitar jidat di sekeliling mata kayak ada oranye-oranye kayak Betadine gitu," kata Delviana lewat akun YouTube yang diunggah pada Kamis, 7 November 2019.

    Delviana sudah memberikan izin kepada Tempo mengutip video tersebut.

    "Yang paling miris adalah kondisi bola mata, kalau menurut akun itu it looks so fine, gue lihat miris bola mata yang gue lihat, yang gue rekam, mata kita beradu pandang, fokus gue ke bola matanya, bola matanya saat itu warnanya kayak kelereng kehijauan dan sama sekali tidak terlihat normal, itu menurut gue yang gue lihat," kata dia.  

    Lebih lanjut, Delviana juga menjelaskan tentang kondisi kulit di sekitar mata Novel yang disebut baik-baik saja. "Nah beliau sempat bilang perawatan di rumah sakit di Singapura sangat baik, sehingga luka di kulitnya cepat pulih," ucap dia.

    Di penghujung video, Delviana kemudian mempertanyakan sejumlah akun yang kembali mengangkat video liputan itu untuk kemudian diberikan narasi berbeda.

    "Gue juga wow kalau ada orang yang berpikiran kalau ini setingan. Kalau ini settingan, kenapa Novel Baswedan memilih dirawat di Rumah Sakit Singapura? Sedangkan kalau ini rekayasa, masa iya sih rumah sakit di luar negeri mau diajak kongkalikong, ini yang dipertaruhkan martabat bangsa. Kedua adalah penjagaan. Kita pikir pakai logika, dia dijaga, dikawal, tapi saat gue ngerekam kalau itu memang settingan pasti mereka nggak akan izinin gue ambil gambar kondisi saat itu logikanya dong," ucap Delviana. 

    Sebelumnya, sejumlah akun di media sosial memotong video liputan NET TV yang bertemu Novel Baswedan di Singapura. Akun-akun ini kemudian melemparkan tudingan bahwa serangan terhadap Novel hanya rekayasa. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.