Pengamat: Partai Gelora, Judi Politik Anis Matta - Fahri Hamzah

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fahri Hamzah (kiri) bersama Anis Mata saat merayakan Hari Sumpah Pemuda dengan Partai Gelora. Instagram/@partai_gelora

    Fahri Hamzah (kiri) bersama Anis Mata saat merayakan Hari Sumpah Pemuda dengan Partai Gelora. Instagram/@partai_gelora

    TEMPO.CO, JakartaPartai Gelora Indonesia tengah bersiap deklrasi. Sejumlah pengamat menilai, para pendiri yang merupakan sempalan PKS seperti Anis Matta dan Fahri Hamzah, tengah berjudi dengan membentuk partai baru akibat konflik internal.

    Partai Gelora Indonesia diprediksi bisa melesat atau justru layu sebelum berkembang. "Tentu ini menjadi perjudian luar biasa bagi pendiri Partai Gelora untuk bisa eksis di tengah persaingan parpol yang luar biasa," ujar Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno saat dihubungi Tempo pada Jumat, 8 November 2019.

    Menurut Adi, ada empat modal penting yang harus dimiliki Partai Gelora untuk bisa berkembang. Yakni figur kunci yang bisa menjadi magnet politik, logistik, jaringan sampai lapis bawah, dan branding politik.

    Sebagai pendatang baru, kata Adi, Partai Gelora juga harus memperluas sasaran ceruk pemilihnya, tak bisa mengandalkan segmen pemilih Islam dan sempalan pemilih PKS yang relatif solid.

    "Partai Gelora berpeluang berkembang karena orang yang merasa menjadi bagian partai tertentu sangat rendah di Indonesia, kisaran 30 persen. Itu artinya, ada 70 persen ceruk pemilih yang bisa direbut Gelora," ujar Adi.

    Senin lalu, para penggagas partai baru ini telah mendatangi notaris untuk mengurus akta pendirian perkumpulan, agar selanjutnya bisa mendapatkan status badan hukum partai dari Kementerian Hukum dan HAM.

    Mayoritas penggagas partai ini adalah eks pimpinan PKS, seperti; Anis Matta, Fahri Hamzah, Mahfudz Siddiq, Rofi Munawar, dan Achmad Rilyadi. Selain eks kader, sejumlah kader PKS pun disebut akan merapat ke bakal partai baru ini. Mereka adalah Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Hadi Mulyadi dan bekas Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Triwisaksana.

    "Mereka bagian dari pendiri," ujar Mahfudz Siddiq saat dihubungi Tempo pada Rabu malam, 6 November 2019.

    Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin mengatakan, jika tidak ingin layu sebelum berkembang, Gelora harus memperluas jaringan dan tidak hanya terbatas pada kader eks PKS yang kecewa. "PKS tentunya tak akan berdiam diri. PKS pasti juga akan mengunci dan menahan agar partai Gelora tidak besar," ujar Ujang saat dihubungi terpisah.

    Ujang juga menyarankan agar Partai Gelora tidak mencari tokoh partai dengan membajak kader-kader partai lain. "Jika faktor-faktor itu dimiliki, maka bisa saja partai Gelora akan menjadi partai yang diperhitungkan. Namun jika tidak, maka bisa saja partai Gelora akan menjadi partai yang layu sebelum berkembang," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.