Panglima TNI Sebut TNI Jaga Pilkada Papua Karena Rawan Isu SARA

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto saat memberikan sambutan pada gelar apel pengamanan jelang pengambilan sumpah dan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Kamis, 17 Oktober 2019. Pola pengamanan pelantikan Jokowi dan Ma'ruf Amin tidak akan jauh berbeda dari pola pengamanan pelantikan anggota Dewan pada 1 Oktober 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto saat memberikan sambutan pada gelar apel pengamanan jelang pengambilan sumpah dan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Kamis, 17 Oktober 2019. Pola pengamanan pelantikan Jokowi dan Ma'ruf Amin tidak akan jauh berbeda dari pola pengamanan pelantikan anggota Dewan pada 1 Oktober 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Panglima Tentara Nasional Indonesia Marsekal Hadi Tjahjanto membeberkan potensi konflik dalam pemilihan kepala daerah serentak 2020. Hadi mengatakan, daerah yang diperkirakan rawan konflik saat pilkada nanti adalah Papua.

    "Adapun daerah yang diperkirakan berpotensi konflik karena isu SARA, konflik horizontal, dan politik uang adalah wilayah Papua," kata Hadi saat rapat kerja dengan Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 5 November 2019.

    Pilkada serentak 2020 akan dilaksanakan di 270 daerah, terdiri dari 9 provinsi, 37 kota, dan 224 kabupaten. Adapun tahapan pilkada serentak dilaksanakan mulai 1 Oktober 2019 hingga 23 September 2020.

    Hadi mengatakan, potensi kerawanan dalam pilkada terdapat dalam aspek penyelenggaraan, kontestasi, dan partisipasi. Maka dari itu, kata dia, TNI akan kembali terlibat dalam pengamanan tahapan pilkada 2020.

    Hadi mengatakan TNI akan menyiagakan personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk diperbantukan kepada Kepolisian Republik Indonesia (Polri). "Pada pemilu yang lalu TNI mengerahkan kekuatan sebesar dua pertiga dari kekuatan yang dikerahkan oleh Polri," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.