HUT Golkar ke-55, Pengamat Sebut Naik Turun Suara Alami Terjadi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rapat pengurus pleno DPP Partai Golkar, untuk penentuan waktu dan tempat Munas, di kantor DPP Partai Golkar, Jalan Nelly Murni, Jakarta, Selasa 5 November 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    Rapat pengurus pleno DPP Partai Golkar, untuk penentuan waktu dan tempat Munas, di kantor DPP Partai Golkar, Jalan Nelly Murni, Jakarta, Selasa 5 November 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    TEMPO.CO, Jakarta - Partai Golkar akan menggelar puncak perayaan hari ulang tahun yang ke-55 pada hari ini, Rabu, 6 November 2019. Lebih dari setengah abad eksis, Golkar terbilang kenyang pengalaman politik. Mulai dari terpuruk di pemilu, menjadi pemenang, hingga pernah akan dibubarkan.

    Namun yang paling kerap menjadi kritik di internal Golkar saat ini ialah perolehan suara yang terus turun sejak Pemilihan Umum 2004. Terlebih bagi pihak yang mengkritik kepemimpinan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, turunnya perolehan suara ini kerap menjadi amunisi.

    Meski begitu, Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai penurunan suara adalah hal yang lumrah dan alamiah terjadi. "Saya melihat penurunan itu tren alamiah. Nyaris tidak ada partai yang naik terus. Golkar mengalami dinamika itu juga," kata Adi kepada Tempo, Rabu, 5 November 2019.

    Pada pemilihan legislatif 2004, Golkar meraih 21,58 persen suara dan 128 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. Angka ini terus turun menjadi 14,45 persen (107 kursi) di pileg 2009, kemudian 14,75 persen (91 kursi) di pileg 2014, dan 12,31 persen (85 kursi) di pileg 2019.

    Politikus senior Partai Golkar Agun Gunandjar Sudarsa bahkan mengaku khawatir partainya bernasib bak dinosaurus alias punah. Anggota DPR enam periode ini menganggap punah artinya jika Golkar terus turun menjadi posisi kelima atau keenam dari yang awalnya partai pemenang.

    Menurut Adi Prayitno, turunnya perolehan suara Golkar terjadi karena dua faktor, yakni konflik internal dan kasus korupsi oleh kader. Khusus untuk Pemilu 2019, dia menilai kasus korupsi menjadi faktor utama turunnya suara Golkar.

    Dia mencontohkan sejumlah perkara rasuah yang menjerat kader Golkar beberapa waktu belakangan. Di antaranya kasus Setya Novanto, Idrus Marham, Eni Saragih, hingga Bowo Sidik yang bahkan terjadi menjelang Pemilu 2019.

    Meski begitu, Adi menilai Golkar masih bisa dibilang stabil menjaga perolehan suara dan kursinya di Pemilu 2019. "Kalau kasus korupsi ini terjadi pada partai lain, mungkin sudah ambruk. Tapi Golkar relatif kuat stabil," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.