Menkominfo akan Kebut RUU Perlindungan Data Pribadi

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Komunikasi dan Infomatika Johnny G Plate saat jumpa media di kantornya, Jakarta, Senin, 28 Oktober 2019. TEMPO/Hendartyo Hanggi

    Menteri Komunikasi dan Infomatika Johnny G Plate saat jumpa media di kantornya, Jakarta, Senin, 28 Oktober 2019. TEMPO/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, JakartaMenteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate mengatakan Rancangan Undang-undang Perlindungan Data Pribadi akan kembali dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat periode 2020-2024. Dia mengatakan RUU ini juga akan masuk program legislasi nasional (Prolegnas) prioritas 2020.

    "Tentu perlu menempatkannya di dalam prolegnas prioritas DPR RI, dan Prolegnas prioritas 2020 dan Prolegnas 2020-2024," kata Johnny di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 5 November 2019.

    Menurut Johnny,  pembahasan RUU Perlindungan Data Pribadi ini tak terlepas dari arahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Kata dia, Jokowi mengingatkannya ihwal kedaulatan data ini.

    Dia mengatakan saat ini data-data termasuk data pribadi warga negara tersebar di pelbagai aturan dan undang-undang.

    "Sangat sektoral dan parsial. Kami inginkan untuk melakukan kompilasi di dalam satu undang-undang yang disebut undang-undang perlindungan data pribadi ini," ujarnya.

    Soal kedaulatan data ini pernah diungkapkan Jokowi saat pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2019 di hadapan anggota DPR dan Dewan Perwakilan Daerah. Jokowi kala itu bahkan menyebut data lebih berharga dari minyak.

    "Kita harus siaga menghadapi ancaman kejahatan siber termasuk kejahatan penyalahgunaan data. Data adalah jenis kekayaan baru bangsa kita, kini data lebih berharga dari minyak," kata Jokowi di Jakarta, Jumat, 16 Agustus 2019.

    Kutipan Jokowi soal data lebih berharga dari minyak ini mirip dengan pernyataan Brittany Kaiser, bekas pegawai Cambridge Analytica yang diwawancara untuk film dokumenter Netflix The Great Hack. 

    Film dokumenter The Great Hack ini mengangkat soal bagaimana Cambridge Analytica, perusahaan analis data asal Inggris, yang diduga memanfaatkan data pengguna Facebook untuk kampanye Presiden Amerika Serika Donald Trump.

    Brittany Kaiser, bekas karyawati di sana, angkat bicara karena jengah dengan perusahaan yang diduga menyalahgunakan data. Dalam wawancara film itu di Thailand, ia berkata, "Perusahaan paling kaya kebanyakan perusahaan teknologi. Google, Facebook, Amazon, Tesla. alasan mereka menjadi perusahaan paling kuat di dunia karena nilai sebuah data melebihi harga minyak. Data adalah aset paling berharga di dunia."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.